Ini Tentang Rara

Diposting pada 2017/09/22 oleh Azkaata w 102 view
“Minum sini ya Ra? Gak asyik kalau di bawa ke kelas.” Rara mengangguk setuju, sambil mengedarkan pandangannya. Dua bangku di sebelah kiri kami yang sedang antri es serut, sayup-sayup terdengar tawa riang dari dua orang yang tak asing. Siapa lagi kalau bukan Rama dan Ardan. See, aku juga menarik bibirku kekiri 1 cm melihatnya. Tapi aku segera tersadar kalau menurut ustadku dulu, tertawa itu gak boleh berat sebelah, jadi harus kekanan 1 cm dan kekiri 1 cm. Ingat itu, buru-buru ku ubah posisi bibir cerewetku menjadi senyum seimbang nan manis, bukan senyum kiri secenti nan sinis. “Karate!” aku dan Rara serempak menoleh keasal suara itu. Pasti Rama, siapa lagi? Diantara tiga serangkai itu, hanya Rama yang bisa berteriak penuh semangat begitu. Dia mengadu dua kepalan tinju tangannya. Si tunanetra yang unik. Ckckck... dia juga cowok yang bisa buat sahabat disampingku ini agak gimana gitu. “Keren, kan? Gue bisa belajar jurus-jurusnya Sub-Zero atau Ryu!” Masih dengan nada penuh semangat, Rama melanjutkan orasi dadakannya. Rara tertawa tertahan mendengar celoteh Rama, yang ditanggapi Ardan dengan wajah cengo. Jika Rama bisa melihat apa yang digambarkan wajah sahabatnya itu, aku yakin Rama akan segera menghantamnya dengan meja. Jujur, aku juga tak sanggup menahan tawaku. Belum lagi saat Dodo dengan hebohnya datang dan menimbulkan gempa dikantin, mereka mengintrogasi Dodo, bertanya akan gabung diclub ekskul apa? Entahlah mungkin karena efek yang ditimbulkan Rama tadi, sampai si Ardan mencantumkan kemungkinan Dodo akan milih karate. It’s so Imposible Bro! Bukannya menghina, Cuma let’s see the fact. Dodo cowok dengan berat badan sekitar 80-an dan tinggi diantara 160-165,tak bisa pisah dengan makanan apalagi kemungkinan kegiatan fisik lainnya, mana bisa tahan di karate? Tawaku dan Rara benar-benar akan meledak setelah mengetahui alasan kenapa Dodo pilih ada di ekskul tataboga. Bukan hanya kami berdua yang secara terselubung ikut tertawa, mereka bahkan dengan terang-terangan membuat semua orang dikantin menoleh dan bertanya-tanya. Namun seolah menyadari, jika semua orang tengah memandang aneh pada komunitasnya, Rama terdiam lebih awal. Sedang dua sohibnya, menatap aku dan Rara yang numpang tertawa dicelotehan mereka. Perutku kembali terguncang saat Ardan memanggil Rara sambil mengatakan jika Rama kangen. Dan twistnya, bakwan yang dilempar oleh Rama bisa tepat sasaran di muka Ardan. “Ndin, gue mampir kemereka sebentar ya? Nanti kita dimeja sebelahnya aja” Aku hanya mengangguk, karena masih sibuk menahan tawa. Rara memang senang memperhatikan kegiatan Rama, sejak aku mengenalnya, awal kelas satu dulu. Saat kutanya mengapa? dia hanya menjawab bahwa dia penasaran dengan cara Rama menjalani hidupnya, seolah damai, bahagia penuh semangat dan tanpa ada rasa kekurangan ataupun marah pada nasib. Untuk hal itu aku juga setuju.Tapi kuyakin ada sesuatu lain. Masih terdengar obrolan mereka yang menanyakan Rara ikut ekskul apa. Hmh... Robotika. Aku tau Rara fisiknya sudah tidak terlalu kuat lagi. Tisu.. tisu, aku butuh tisu. Mengingat Rara, rasanya airmataku tak akan ada habisnya. “Kenapa mandang mereka terus? Cemburu?” Oh.. mimpi burukku datang. Si guru muda MTK. “Eh.. bapak, hehe... maaf pak mau lewat, bisa agak minggir?” Okay, dulu waktu dikelas satu, aku memang kagum pada beliau, tapi tidak untuk hari ini. Jangan tanya kenapa, karena aku tipikal orang yang gampang ilfeel sama orang lain. Apa lagi sama guru umur 25 tahun ini. Ih.. suruh kelaut aja sana! “Hey,!” Dia menghardikku? Oh..Maaf, bapak Rasya. Gak ada waktu mendengar bualan murahan kayak gitu. “Hai Andin.. Cuma bawa dua nih? Buat aku sama kamu ya?” Ardan yang menyadari kedatanganku, semoga bisa jadi penyelamatku dari Guru error di belakang. “Eh... Ardan, nggak kok ini buat aku sama Rara.” Aku menimpali Ardan dengan senyum ramah “Ra, minum disini, atau meja sebelah?” Rara yang duduk di samping Rama, beringsut bangkit dan mengambil alih satu mangkuk ditangan kananku. “Sana aja deh.. lagian kayak ada yang nungguin kamu tuh.” Rara.. Damn you! Guru MTK itu sudah ada di meja sebelah. “Ra.. kayaknya kita perlu buat perhitungan deh, tega nian kau masukkan aku di kandang singa.” Aku masih setia berdiri ditempatku, berharap bumi menelanku. “Udah.. ayo kesana!” Rara sudah ngeloyor duluan, duduk didepan Pak Rasya (Baca : Guru error) “Om.. jangan lupa, uang jaminan ya?” Rara berbisik ke guru error itu, tepat setelah aku menaruh es ku di meja. Guru itu notabenenya Om dari Rara. “Ugh.. awas aja nanti, mumpung Rama disini nih! Mungkin lebih baik dia tau, biar kamu ada yang jenguk waktu mondok.” Aku mengancam Rara dengan rahasia besarnya. Kanker yang sudah parah, dia sembunyikan dari semua orang. Kecuali keluarganya, dan satu orang luar. Yaitu aku. Sebenarnya tidak sengaja, saat main kerumahnya aku mendengar orangtua Rara membuat janji dengan dokter dirumah sakit. Dari sana aku memaksa Rara untuk menceritakannya. “Sebodo amat, amat aja gak bodo.” Rara irit bicara, tapi sekali bicara nyebelin setengah mati. Walau sering mondok dirumah sakit dan kesepian, ini anak gak ada tobatnya. “Okay, aku nyamperin Rama beneran sekarang..” Aku mulai berbiri, sambil melihat wajah Rara yang stay cool. “Ram....” “Andin.. serius nih, duduk sebentar ya?” Ah.. aku hampir lupa kalau ada Guru error di depanku tadi. Gosh! Kenapa aku jadi nurut dan tiba-tiba duduk lagi? Kulihat lagi, Rara tersenyum penuh kemenangan. Sial. “Baca ini! I’ll wait you.” Sebuah amplop biru laut. Cih.. dasar Error, jaman gini pakai surat-suratan. Ada email pak E-M-A-I-L. Tapi.. wajahnya aku tau, itu wajah tulus dan serius. Gak bisa nolak dah, terpaksa aku terima dengan tangan terbuka. Karena kalau tertutup namanya menggenggam. “Saya, baca tapi nanti saja deh Pak, gak enak baca sambil minum.” Kalau ada tempat sampah berjalan, tolong segera hampiri saya. Surat ini sepertinya tidak layak baca sama sekali. “Baiklah.. terserahmu saja. Aku pergi dulu ya?” Pak Rasya sudah beranjak sebelum berjalan, dia mengeluarkan dompetnya. Meletakkan uang 50 ribuan di meja. “Ra.. kopiku belum dibayar. Bayarin ya? Sisanya uang jaminan.” Dasar error. Dia berlalu setelah tersenyum sok manis dan mengedipkan sebelah matanya pada Rara dan aku (mungkin) karena aku gak merasa. “Andin, Rara.. kita duluan ya?” Ardan menepuk bahuku dari belakang, disebelahnya ada Rama, yang tersenyum bahagia menurutku. Entahlah mungkin karena Rara. “Eh.. Andin ikut Ekstra apa?” Baru saja, aku ingin menjawab Ardan, udah dipotong Rama. Terus mana dulu yang dijawab? Hedeh. “Okay Ardan, aku ikut fotografi sama robotika Ram, denger-denger kamu di karate ya?” “Iya, wah.. fotografi pasti asyik tuh. Aku cabut dulu ya Ra, Ndin” Sapa Rama masih dalam mode smilenya. “Okay, hati-hati dijalan” barusan yang jawab Rara. Perhatian bener ini bocah. “Ecie.. perhatian bener sama gebetannya.” Rara menatapku teduh, gak biasanya banget ini orang tampil dengan tatapan lembut nan syahdu. “Bukan perhatian, mungkin lebih dalam dari itu. Seiring waktu membelenggu, aku sadar penyakitku akan segera membuat jarak baru. Hanya sebisa mungkin, disisa yang ada, aku ingin dia tau sesuatu Ndin.” Hmh.. benar dugaanku, tidak hanya sekedar kagum. Rara positif suka sama Rama. Double ‘R’. “Melankolis banget sih Ra, dia tau kok kamu adalah malaikatnya. Aku yakin itu.” Kugenggam tangan Rara, dia masih menerawang jauh. Ini kesempatan bagiku mengorek-ngorek sesuatu dari hatinya. Jika Rara, melamun itu sama dengan Rara dihipnotis. Apapun akan dia katakan, entah sadar atau tidak. “Raa.. kenapa kamu bisa segitunya sama Rama? Kamu cinta ya sama dia?” “Nggak tau juga, mungkin iya.” Hah.. prediksi ku benar saudara. “Koq bisa sih cinta sama Rama yang tunanetra, kan yang lebih sempurna banyak Ra.” Wait, kutekan tombol On pada HP ku untuk merekan suara Rara. Ini bisa jadi bukti konkret dikemudian hari. “Kesempurnaan itu tak akan pernah ada Ndin. Aku suka sama kekurangannya Rama. Sama dia yang buta, dan mungkin jika dia bisa melihat, aku tak akan suka sama dia. Kamu tahu Ndin? Aku suka berada didekat Rama, karena dengan begitu aku merasa dekat dengan Tuhanku, dengan penciptaku. Karena bersama Rama selalu mengingatkanku untuk mengagumi kekuasaan dan keagungan Allah.” Okay.. sepertinya Rara sudah beralih profesi dari siswa menjadi pujangga. “...Rama, jika dia bisa bahagia dalam gelapnya. Kenapa aku tak bisa bahagia juga dalam sakitku. Kekurangan tidak selamanya jadi kekurangan, karena kekurangan adalah kelebihan dalam bentuk yang berbeda. Cintai orang dari kekurangannya, maka akan kau temukan kelebihan terbaiknya Ndin. Itu berlaku buat kamu untuk Om ku.” Mungkin ini sejarah dan perlu masuk rekor MURI atau world record sekalian. Karena ini kalimat terpanjang yang keluar dari sahabatku. “Ra.. menurutmu apa reaksi Rama saat tau keadaan mu?” Sejujurnya fikiranku bermain dengan kalimat terakhir Rara. ‘Itu berlaku buat kamu untuk Om ku.’ Sehingga pertanyaan itu muncul begitu saja. “Kau bisa mengulang apa yang ku katakan tadi kan Ndin? Kesempurnaan tak akan pernah ada. Itu juga berlaku bagiku, kamu tau aku tak pernah menyesal dengan penyakit yang Allah berikan. Karena jika tanpa penyakit itu, aku bakal jadi orang yang sempurna bukan? Sayangnya aku gak percaya dengan kata sempurna. Jadi jika aku telah tiada nanti, katakan saja, kehilanganku adalah bentuk dari kekuasaannya bahwa tak ada yang sempurna Ndin.” Save. Dan... Hari dimana Rara pergi untuk selamanya tiba-tiba datang begitu saja. Hari itu ada hujan dan ada sinar terang. Seolah semua suka duka terbawa olehnya. Dia sahabatku. Sahabat terbaikku, sahabat yang tau bagaimana cara mencintai dalam diam, bagaimana mengungkapkan rasa yang sulit dirasa. Rara.. apa kamu melihatnya? Sekarang Rama telah berhasil dalam hidupnya. Apa kamu bahagia? Aku juga telah jadi bagian dari keluargamu. Apa masih ada yang ingin kau katakan? Rekaman itu, adalah penghilang dahaga kami akan kehadiranmu. Memori, demi memori itu adalah pengganjal, kala hati kami terasa kosong saat merindumu. Kamu, Rama dan duniamu. Abadi bersama berjalannya waktu. Ilmu karate, game, maupun pelajaran, biar abadi jadi amalmu yang terus mengalir. Rara.. apapun yang telah kau tanamkan dalam memori kami. Itu adalah pelajaran yang akan kami turunkan pada anak-anak kami. Jember, 11: 47 WIB 120122014
Azkaata w
"#Tomorrow or never #one and done"

Cerita Lainnya

CERITA PENDIDIKAN di TAPAL BATAS LAUT INDONESIA-AUSTRALIA

Satu tahun mengabdi telah terlewati, namun meja kami tak kunjung terganti ...

Ini Tentang Rara

Manusia sempurna dengan ketidak sempurnaan-nya. ...

Pernah Jagain Jodoh Orang, Disabarin ajah !

Selamat membaca teruntuk kamu yang disana. Yang selalu menanti seseorang yang sama. Walau ...

Bahagia & sukses di usia muda (real story)

Disetiap kesedihan , Allah selalu punya rencana terindah ...

Berani Tampil Beda (BTB) itu keceee...

Berani Tampil Beda akan membuatmu berada di golongan orang spesial- Novianta Y ...

Dibalik Istana

ini adalah perjalanan seorang anak manusia yang mempunyai mimpi untuk bisa berada di Istan ...

Cincin Kegagalan

"Jika tuhan berkata lain, terima dan percayalah bahwa Tuhan telah siapkan yang lebih baik ...