Ayah

Diposting pada 2017/09/20 oleh Tiara J. A 79 view

Ayah

Assalamualaikum Wr.Wb

Hai kenalin nama saya Tiara umur saya baru 19 tahun, kesibukan saya saat ini bekerja sebagai kasir di salah satu brand baju bayi, dsini saya ingin berbagi sedikit kisah kehidupan keluarga saya bersama kalian semua,  yang mungkin kisah saya ini ada yang sama atau hampir mirip serupa dgn apa yg saya alami di dalam kisah keluarga saya

Saya lahir dari keluarga sederhana,  saya di besar kan oleh kakek, nenek, dan ibu. Yaa mungkin kalian langsung bertanya-tanya dimana ayah nya? Ayah saya tinggal bersama wanita itu (ibu tiri saya).Kenapa bisa? Yaa bisa,  ketika Allah membuat skenario cerita ini di dalam hidup saya,  maka saya hanya bisa pasrah berserah diri.Mungkin ini adalah takdir yg di berikan olehNya kepada saya, agar saya bisa tau apa itu arti kehidupan yg sebenar nya. 

Yaa saya di besarkan tanpa seorang ayah,  kisah ini berawal dari masa gadis ibu saya yang pada saat itu usia nya sudah cukup untuk memasuki ke jenjang pernikahan, yang pada akhirnya ibu saya berjumpa dgn ayah saya di suatu tempat yg pada masa itu pula perkenalan mereka berujung ke pernikahan.Masa-masa rumah tangga pun berlanjut seperti biasa,  ibu  saya bekerja sebgai ibu rumah tangga,  layakbya ibu rumah tangga yg lain nya sedangkan ayah saya bekerja (dinas) sebgai anggota TNI.Pada awalnya ibu saya tidak curiga sedikit pun dgn status ayah saya, yg dari mulai syarat-syarat menikah seperti apa dan bagaimana jika menikah dgn anggota TNI. Memang pada awalnya ibu saya menanyakan hal serupa salah satunya menikah kantor terlebih dahulu baru nikah adat, tapi itu semua tidak ada hanya langsung nikah adat. Yang kemudian di jelaskan oleh ayah saya bahwa nikah kantor itu bisa "nyusul", tetapi yg sebenar nya jika betul-betul nikah sah dgn anggota TNI itu nikah kantor dulu, baru nikah adat.

Hari demi hari bulan demi bulan masa-masa pernikahan dan rumah tangga ibu saya pun berjalan dgn lancar, berjalan dgn baik.Hingga pada akhirnya Allah memberi titipan kepada ayah dan ibu saya, yaitu di karuniai seorang anak yg tak lain itu saya.Hingga pada masa nya saya lahir ke dunia, namun sayang lahirnya  saya ke dunia ini harus sudah menerima takdir,  yaitu saya tidak bisa melihat sosok ayah saya itu bagaimana dan seperti apa dia. Yaa mungkin ini lah caraNya Allah menciptkan wajah saya yang di bilang hampir 98% mirip sekali dgn nya, agar kelak mungkin ketika saya merindukan sosok diri nya saya bisa bercermin dan melihat sosok ayah saya ada pada wajah saya.

Memang saya harus menerima keadaan dimana usia saya yg kala itu masih di bawah balita yg mau tak mau harus berpisah dgn ayahnya karena perceraian terjadi ketika istri pertama ayah saya (ibu tiri saya)  tau kalo ayah saya ini menikah lagi dengan wanita lain (ibu saya).Posisi ibu saya pada saat itu pun kaget bak di sambar petir di siang bolong bahwa teryata dirinya di jadikan istri ke 2, ketika tau ada wanita yang menyusul dirinya dan ternyata wanita tsb adalah istri pertamanya istri sah nya.Hingga pada akhirnya perpisahan pun tejadi,  perceraian, talak 3 pun terjadi, hingga status janda ber anak 1 pun ia terima.Kala itu saya menanyakan bagaimana posisi saya pada saat itu,  ibu saya bercerita posisi saya pada saat itu layaknya anak kecil lain nya yang dirinya tak mau di jauhkan, tak mau di pisahkan dan tau mau di lepaskan dari orang tua nya karena memang posisi saya pada saat itu tengah di gendong oleh ayah saya sebagai tanda itu adalah gendongan untuk yg terakhir kali nya dan itu pula pelukan kasih sayang dari nya untuk terakhir  kali nya juga. 

Kata ibu saya,  saat itu saya sperti sudah memiliki firasat yang kuat bahwa ayah nya akan pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi,  yang mungkin tidak akan menggendong nya lagi,  menciumnya lagi,  memeluknya lagi bahkan tidak akan menemani tidur nya lagi atau pun mengajak bercanda tawa lagi,  karena memang pada saat itu usia saya yg masih sekitar 6 atau 7 bulanan kala ayah saya menyudahi pelukan dan mengembalikan saya ke gendongan ibu saya,  saya meronta seakan-akan tak mau lepas  dan tak ingin di pindah gendongan dari gendongan dan pelukan ayah saya pada saat itu dan saya ingin terus-menerus di peluk dan di gendong oleh ayah saya. Tentu tangisan dan jeritan bayi yang masih 7 bulan itu pun terdengar cukup keras,  karena keinginan nya tak terpenuhi.Muka memerahnya pun nampak terlihat di wajah bayi 7 bulan itu.

Tangan nya yang mungil itu terus ia arah kan ke arah ayahnya yg hendak pergi seakan-akan ingin meminta dirinya agar di gendong kembali lagi dan di peluk lagi oleh ayah nya.Tapi kala itu ayah saya menghiraukan nya dan seakan-akan pura-pura tidak mendengar jeritan tangisan saya pada saat itu, ia hanya jalan lurus tanpa menoleh ke belakang ke arah saya dan ibu saya yg pada saat itu tengah mrnggendong saya dan mencoba menenangkan saya agar saya tidak menagis lagi.

Dan ketika ayah saya pergi (kembali tinggal bersama istri pertama), ibu saya pun tinggal hanya ber 2 bersama saya di salah satu kost-kostan yg berpetak kecil yang hanya bisa di tinggali oleh satu orang saja,  melihat kejadian ini tentu nenek saya pun tak mau berdiam diri meskipun pernah untuk tidak mengajak ibu saya agar tidak datang ke rumahnya,  karena malu bahwa anaknya sudah menyandang status janda anak satu yg beredar di kalangan ibu2 komplek pada saat itu. Tapi bagaimana pun juga tetap itu adalah anaknya,  darah daging nya,  tanpa  memikirkan rasa malu karena status anaknya dan tanpa mrmikirkan ini dan itu, nenek saya pun memboyong saya dan ibu saya untuk tinggal bersama nya. 

Karena malu tiap hari ibu saya makan dan tidur di rumah ibunya begitu juga dgn kebutuhan saya pada saat itu di bantu oleh nenek dan kakek saya, yang harusnya bisa memberi ini malah di beri,  akhirnya ibu pun memutuskan untuk bekerja di kota. Karena memang nenek dan kakek saya pada saat itu tinggal di pesisian kota.Di kala itu juga saya mau tak mau harus jauh dari sosok ibu,  bayangkan ketika seorang bayi yg masih butuh kasih sayang dan cinta yg penuh dari ke 2 orang tua nya kini harus jauh dari itu semua karena situasi dan kondisi serta keadaan yg harus ia terima di kala usia nya yg masih bayi itu. 

Hingga pada akhirnya Allah Maha Baik, Allah memberika rezeki kepada anak yg tak pernah di urus dan biayai sepeserpun oleh ayahnya.Kala itu ibu saya bekerja dgn mendapatkan pekerjaan yg bisa mengubah hidupnya,  hidup saya,  dan hidup ke 2 orang tua nya yg saat itu serba kekurangan kini menjadi serba kecukupan.Saya pun tumbuh berkembang menjadi anak yg aktif seperti anak-anak yg lain nya di seumuran nya itu.Yang pada akhirnya di usia saya yg menginjak ke 5 thun saya pun di pertemukan oleh ayah saya,di saat itu ketika saya melihat ayah saya itu seperti melihat penjahat.Yaa karena postur tubuh yg tinggi besar dan berkulit coklat,  serta nada suara yg menggelegar besar ketika memanggil saya ciri khas dari tentara itu lah yg membuat saya takut dan menhindar dari jauh nya.Di saat usia itu lah untu pertama kali nya saya baru bisa melihat sosok ayah saya itu seperti apa dan bagaimana. 

Yang sebelumnya juga ketika saya pertama masuk sekolah TK banyak di antara teman-teman saya yg sering kali di antar-jemput oleh ayah nya,  bahkan di antara mereka ada yg menanyakan dimana ayah saya dan saya hanya bisa menjawab "ayah aku ada kok, tapi dia jauuhhh" itu jawbn yg sering saya jwab ketika ada yg menanyakan dimana ayah saya.Pernah dulu juga saya ingin menanyakan kepada ibu saya dimana ayah saya,  tapi pertanyaan itu selalu saya simpan, karena saya takut dimarahi jika saya menanyakan hal itu,  karena saya juga termasuk anak yang pendiam,  pemalu, dan penakut di usia saat itu.

Beranjak masuk SMP saya di pertemukan oleh kakak-kakak tiri saya, mungkin kehadiran saya di mata mereka tidak mereka inginkan. Terlihat dari bagaimana ekspresi dari wajah mereka cara mereka menyambut dam menyapa saya, ketika saya berkunjung ke rumah ibu tiri saya pada saat itu.Ayah saya pun menjelakan kepadanya bahwa mereka punya adik perempuan, tetapi beda ibu dan mau tak mau mereka harus baik kepada saya, itu lah ucapan yg pernah di ucap oleh ayah saya.Yaa saya memiliki 2 kakak tiri yang dua-duanya sama-sama perempuan, tetapi sayang nya cara ayah saya dalam membagi kasih sayang nya itu terlihat tidak adil, ia selalu membangga-banggakan ke 2 anaknya tsb, salah satu nya anak pertama yang telah sukses menjadi PASKIBRAKA yg di lanjut telah sukses menjadi bidan, dan kini menikah dengan anggota TNI pula dan anak ke 2 nya pun tak lupa ia bangga-banggakan dia telah berhasil menjadi anak berprestasi di sekolah nya dan kini ia telah berhasil lolos tes seleksi masuk perguruan tinggi yang bergengsi di Bandung. Tentu dengan mendengar hal tersebut ibu saya pun merasa sakit hati, ketika anak dari istri pertamanya berhasil dan sukses, tetapi ketika saya memberi kabar kepadanya bahwa saya telah mendapatkan prestasi di sekolah akademik maupun non-akademik reaksi dia hanya biasa-biasa saja, jangankan reaksi senang untuk ucapan selamat pun tidak ada.

Rasa rindu ingin berjumpa dengan ayah pun mulai saya rasa kan, saya pun mencoba memberanikan diri untuk menanyakan kabar nya, dari mulai pertanyaan apa kabar, lagi apa, lagi dimana mulai saya tanyakan.Hingga akhirnya saya mengutarakan rasa rindu saya kepada nya dan ingin sekali berjumpa, namun sayang rasa rindu saya ini harus saya pendam lebih lama karena alasan-alasan yang membuat dia tidak bisa berjumpa dan bertemu dengan saya.Tak hanya sekali atau pun 2 kali, tetapi tiap kali saya ingin bertemu dengan nya, pasti alasan nya seperti itu.Padahal jarak waktu saya ingin berjumpa dengan dirinya itu bukan berbulan-bulan, tetapi bertahun-tahun.Apakah dengan lama nya waktu itu dia tak rindu kah dengan saya? anak kandung nya ini? itu lah pertanyaan yang selalu terlintas di benak pikiran saya.Mungkin cukup Allah saja yang tau apa alasan yang sesungguhnya, sehingga dia tak ada waktu untuk berjumpa dgn saya anak kandung nya.

Dan ketika saya SD, SMP, bahkan hingga SMA saya belum bisa menerima kenyataan kalo itu adalah ayah saya,  karena apa yg telah di cerita kan oleh ibu saya itu membuat saya benci,  marah bahkan menganggap kalo itu bukan lah ayah saya, yg saya tau dia adalah orang yang sudah menhancurkan kebahagiaan  ibu saya dan dia lah yg sudah menjadi kan diri saya ini adalh orang yg menyedihkan di dunia ini, bahkan saya pernah berfikir dan sempat hampir berprutasi kenapa jalan cerita hidup saya seperti ini? kenapa harus begini? dan apa salah saya? Kenapa saya harus punya ayah kaya dia?  Apa aku anak yg gak di inginkan? Itu lah yg selalu saya ucap,  tiap kali saya memiliki masalah yg berhubungan dgn ayah, kalimat itu lah yg dulu sering saya ucap sembari menangis, tetapi untungnya meskipun kehidupan keluarga saya broken home, tetapi saya tidak ada niat sedikit pun untuk melakukan hal-hal yg negatif.Karena saya melihat ibu saya, jangan sampai hati nya terlukai untuk yg ke 2 kali nya, meskipun ibu saya pernah menangis sakit hati karena ayah saya, setidaknya ibu saya harus menangis bahagia karena saya.Dan ketika saya beranjak ke usia 18 thn di saat itu pula usia saya sudah memasuki dunia kerja,  saya baru sadar bahwa dia adalah ayah saya,  saya tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah lahir ke dunia ini, bahkan saya tidak akan pernah belajar dari kecil hingga saat ini apa arti kehidupan di dunia ini yg sesungguhnya jika tidak ada dia. Bagaimana  pun juga baik, buruknya dia, tetap dia adalah orang tua saya,  dia adalah ayah kandung saya,  dan saya adalah darah daging nya dan saya juga adalah anaknya.

Hanya satu impian saya, yakni saya bisa menjadi orang, saya bisa menjadi sukses dan berhasil tanpa ada peran ayah sedikit pun, di dalam kehidupan saya hanyalah ada sosok ibu saya, nenek saya, dan kakek saya, dia lah orang yang bisa menjadikan saya orang yg sukses dan orang yg berhasil yang bisa berguna bagi semua orang dan bisa memberikan hal-hal yang positif untuk semua orang, juga bisa membuktikan tanpa sosok seorang ayah pun saya bisa mencapai impian dan cita-cita saya.

Dan kelak, ketika saya menikah nanti saya ingin sekali anak saya nanti memanggil suami saya dengan panggilan "ayah" agar saya bisa tau, bisa mendengar dan bisa merasakan di usia-usianya itu bagaiman nada-nada anak kecil memanggil sebutan itu yang dulu tidak pernah saya rasa kan, saya ucapkan dan saya dengar kan dari mulut saya dgn mengucapkan kalimat "ayah" karena semasa saya kecil saya hanya bisa memanggil seseorang dgn sebutan kalimat "ibu", "nenek", dan "kakek".


NOTED : disini saya hanya ingin berbagi kisah saja, yang mungkin kisah kehidupan nya ada yang sama atau mungkin hampir sama.Jika kalian memiliki kisah yang sama seperti saya, jangan bersedih karena kamu tidak sendiri ada Allah yg selalu menemani mu apapun keadaan mu saat ini, dimana pun dan kapan pun itu.Buktikan bahwa kamu bisa, tanpa orang tua yang lengkap pun kamu bisa.Karena yang bisa menentukan masa depan mu itu kamu sendiri, orang lain hanya jadi pendukung, hanya jadi pendorong.Jangan melihat masa lalu keluarga mu itu seperti apa dan bagaimana, baik kah atau buruk kah.Jadikan itu sebuah motivasi dan pembelajaran hidup agar menjadi lebih baik lagi. Dan untuk kalian yan memiliki keluarga yang sempurna (no broken home) berbahagialah dan bersyukurlah karena kalian bisa merasakan kasih sayang dan cinta yang bisa kalian dapatkan dari ke 2 nya, jangan pernah kecewakan mereka, atau pun menyakiti nya, karena mungkin kamu tidak tau bisa jadi di antara mereka ada konflik dalam kehidupan rumah tangga nya yang apa bila mereka memiliki rasa ego yg tinggi, mungkin akan berujung ke perceraian atau broken home.Tetapi mereka berusaha untuk tidak membesarkan masalah yg ada demi mempertahankan ke utuhan rumah tetangga nya dan demi agar kalian tidak jadi korban dalam konflik tsb. Karena bagaiman pun juga anak yang akan jadi korbannya bila terjadi perceraian.Cukup saya saja yang jadi korban dari semua ini, jangan ada tiara, tiara yg lain nya yang jadi korban dari broken home ini, terutama korban perasaan 😊

 

saya akhiri sudah kisah cerita saya ini, semoga bermanfaat bagi si pembacanya. Apabila ada tutur bahasa, kalimat atau ucapan yg kurang berkenan untuk di dengar saya mohon maaf.Ambil yang baiknya buang yang buruknya 🙇

Sekian

Wassalamuallaikum Wr. Wb.

 

 

 


Tiara J. A
"Belum Ada Quotes"

Cerita Lainnya

CERITA PENDIDIKAN di TAPAL BATAS LAUT INDONESIA-AUSTRALIA

Satu tahun mengabdi telah terlewati, namun meja kami tak kunjung terganti ...

Ini Tentang Rara

Manusia sempurna dengan ketidak sempurnaan-nya. ...

Pernah Jagain Jodoh Orang, Disabarin ajah !

Selamat membaca teruntuk kamu yang disana. Yang selalu menanti seseorang yang sama. Walau ...

Bahagia & sukses di usia muda (real story)

Disetiap kesedihan , Allah selalu punya rencana terindah ...

Berani Tampil Beda (BTB) itu keceee...

Berani Tampil Beda akan membuatmu berada di golongan orang spesial- Novianta Y ...

Dibalik Istana

ini adalah perjalanan seorang anak manusia yang mempunyai mimpi untuk bisa berada di Istan ...

Cincin Kegagalan

"Jika tuhan berkata lain, terima dan percayalah bahwa Tuhan telah siapkan yang lebih baik ...