Adam & Hawa Tidak Pernah Putus

Diposting pada 2017/12/18 oleh Etzar Sastra 56 view
Hari itu adalah hari yang paling indah bagiku. Bukan karena telah menjadi seorang mahasiswa, atau bukan juga karena pihak kampus mengizinkan untuk kuliah sambil kerja di kampus tersebut. Namun hari itu adalah awal mula dari kisah ini tercipta, lahir dari tulisan dan ditakdirkan untuk dibaca. Namaku Adam Raditya, seorang Perantau muda asal pulau Sulawesi yang ingin memperjuangkan mimpi di tanah perantauan. Bersama Togar, sesama Perantau namun beda pulau. Aku dengannya sama-sama berjuang. Pemuda asal pulau Sumatera itu juga gigih dalam mengejar impiannya. Subuh buta kami sudah di dalam perjalanan menuju kampus. Sesampainya di sana kami bergelut dengan waktu, membersihkan setiap sudut kelas dengan kain pel maupun sapu ijuk yang seakan seperti senjata terpenting. Siangnya kembali bekerja sebagai pelayan di kantin kampus. Jadi, untuk urusan perut, kami tidak perlu khawatir. Kenyang adalah salah satu nikmat yang tidak boleh untuk tidak disyukuri. Tapi hari itu, sesuatu telah terjadi. Ketika sore hari aku tengah tergesa-gesa menuju kelas. Ujian menanti. Saat kaki melangkah lebih cepat dari biasanya, sebuah batu nyaris membuat tubuhku rubuh ke permukaan tanah. Nyaris. Untung aku gesit dan berhasil menyelamatkan diri. Dan semua itu belum tuntas sampai di situ. Sesungguhnya yang membuatku ambruk ialah ketika kaki tiba-tiba berhenti di satu titik namun kehilangan keseimbangan. "Maaf, ini semua gara-gara aku, lagi buru-buru soalnya. Sini aku bantu." Mahasiswi itu tiba-tiba berada tepat di depan wajahku. Manis, saking manisnya aku kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. "Oh, gak apa-apa, tadi aku cuma kaget aja.." Kataku berusaha tetap terlihat baik-baik saja, lalu segera bangkit. "Kenalin namaku Hawa Shifa, panggil Hawa boleh, Shifa juga gak apa-apa." Ujarnya. "Aku, Adam. Adam Raditya. Senang berkenalan dengan kamu." Pertemuan itu akhirnya membuahkan hasil. Kami menjadi akrab. Tapi perbedaan adalah salah satu hal yang harus dinikmati. Semua kusadari dari latar belakang kami yang berbeda. Kami adalah langit dan bumi. "Ayolah Ambi, itu hanyalah status. Yang penting kalian sama-sama suka." Eks mencoba meyakinkan. "Betul.." Kata Intro. Baru saja aku ingin menjawab. Suara Togar menggelegar bak petir di musim hujan. "Adam! Lagi ngapain? Lama amat lu di Toilet. Buruan kita pulang Yuk!!!" Segera aku keluar. Berhubung katanya sekarang lagi musim hujan jadi semestinya sudah berada di kontrakan atau kami harus basah-basahan di tengah jalan yang macet parah. ************* Hari demi hari telah berlalu. Kesibukan dengan mata kuliah yang menuntut setiap mahasiswa untuk terus fokus. Hal itu tentu membuat jarak pertemuan kami tidak seperti kemarin. Masalahnya jangan kan Handphone, pergi ke kampus saja hanya naik sepeda. Jadi bagaimana cara berkomunikasi dengan Hawa? "Tabungan kau mau di bongkar demi sebuah motor butut rongsokan itu?" Tanyanya Togar. "Iya, demi kita juga kan? Lu gak capek naik sepeda terus? Paling nggak kan kita bisa lebih cepat?" "Cepat bertarung dengan kemacetan Jakarta? Kau sudah punya SIM!? Nanti ketilang lagi!" Tukasnya. "Sebenarnya gua kepengen beli motor, agar bisa ngajak Hawa jalan-jalan atau pulang bareng." Paparku. Mendengar hal itu dia malah menggeleng. Mungkin menyerah. Seperti biasa, kami segera berangkat dengan masih menaiki sepeda. Mengayuh dengan sekuat tenaga, bahan bakar kami hanya semangat di dada. Sesampainya di kampus langsung terjun ke lapangan kerja yang sudah di tekuni selama berbulan-bulan. Tentu tidak ada yang tahu rahasia kami. Tapi pagi itu, setelah semuanya selesai. Seperti biasa kami akan segera sarapan di kantin. "Hawa?" Togar menyebut nama itu. Aku menoleh. Benar. Gadis itu masih anggun seperti biasa. Dia sedang memperhatikan kami dari jarak yang tidak begitu jauh. "Sejak kapan kamu berada di situ? Apa yang kamu lakukan? Jam kuliah kan nanti siang?" Tanyaku. Gadis itu berlalu begitu saja. Seakan tidak mengenal kami. Dia berjalan ke arah kelasnya. Dan aku hanya bisa terpaku. Semua misteri itu kusimpan sementara. Aku harus menunggu waktu yang tepat untuk memecahkannya. ********* Keesokan harinya ia seperti menghindariku. Mungkin dia malu memiliki teman yang status sosialnya rendah sepertiku. Ya, memang hal itu patut untuk kusadari. Akhirnya diam adalah pilihan sementara. "Adam!" Suara itu. Ah! Ternyata dia. Gadis manis itu baru saja keluar dari mobilnya. Aku terdiam ketika berjalan di pelataran kampus. "Adam, maafin aku. Sebenarnya ada hal yang kusembunyikan dari kamu." "Hawa, kita memang butuh bicara. Aku pun butuh penjelasan kenapa tiba-tiba sikap kamu berubah?" Gadis itu menarik nafas panjang. Ia menunduk sejenak. "Dam, maafin aku. Sebenarnya ada hal yang kusembunyikan dari kamu." "Aku siap mendengarkan, Wa." "Jujur, sebenarnya.." Ia seperti ragu mengeluarkan segala opini ataupun fakta yang akan ia sampaikan. "Oh, aku paham apa karena aku bumi dan kamu langit?" Tebakku sesuka hati. "Dam! Ini tidak hanya soal itu!" Protesnya. "Atau kamu sudah memiliki atau dimiliki orang lain! Dan orang tersebut adalah senior terkaya di kampus ini?" "Adam!" Bentaknya. "Bukan soal itu!" Gadis manis itu menggenggam tanganku seerat mungkin. Sementara aku hanya diam luruh terbakar amarahku sendiri. "Jika bicara soal status sosial, kita sama-sama bumi, Dam! Jujur sebenarnya aku hanyalah seorang anak yatim piatu yang diangkat oleh sebuah keluarga kaya yang menambakan sosok seorang anak." Mendengar pengakuan itu aku bergetar. Aku malu pada prasangka yang salah selama ini. "Mungkin aku sudah diangkat menjadi langit yang tinggi. Dan bahkan akan selamanya di langit, Dam." Air mata mulai mengintip dari pelupuknya. Sementara aku hanya diam belum mengerti. "Aku akan selalu tinggi di atas sana.." Lanjutnya. "Mungkin aku hanyalah bongkahan bumi, tapi bisa nggak kamu memberi kesempatan, jika nanti aku tidak bisa menjadi bintang, paling nggak aku bisa menjadi awan putih, asalkan kita tetap bersama." Ada senyum mengembang di wajahnya. Tetapi belum sempat menjawab, sebuah tangan kasar langsung menarik lenganku dengan secepat kilat. Togar. Sahabatku itu sudah dari tadi memperhatikan kami yang tengah terlibat dalam percakapan serius. Hanya saja hal yang ditakutkan ketika pak Zabaniah sang dosen Killer muncul dari balik pilar berjalan menuju kelas. Togar hanya tidak tega melihatku kena hukuman dari dosen yang terkenal galak tersebut. Terpaksa Hawa kutinggalkan begitu saja dengan pembahasan yang masih menggantung. Ia pun segera berbaur dengan mahasiswi lainnya. "Eh, Dam. Kau itu, malah asik pacaran. Kalo nanti di hukum sama si Doskill, gua yang repot juga tau!" Cerocos Togar. "Ya elu, ganggu orang pacaran aja!" Kilahku. "Emang udah jadian!?" "Jadian sih belum.., tapi saling cinta sih udah.." "Cie..yang udah resign dari status jomblo..!" Goda Togar. Si Dosen Killer segera masuk ke dalam kelas. Wajah tanpa senyumnya memperhatikan kami satu per satu. Beberapa mahasiswa di kelas itu terlihat tegang. "Oke Class. Kita akan mulai ujian hari ini! Karena minggu depan sudah harus masuk ke semester selanjutnya." Ujarnya. ********** Sebuah sepeda motor bekas kubeli dengan sebagian hasil tabungan selama ini. Betapa bahagianya hati ketika membayangkan Hawa berada di boncengan motor bututku. Aku segera memoles kaca spion sambil berkaca memamerkan senyum bahagia. "Ambi, apa kamu yakin si Hawa bakal mau diboncengi motor butut seperti ini?" Goda Eks. "Eh, Eks! di kampus internasional itu memang cuma aku yang pake motor butut kayak gini. Tapi jangan salah, yang klasik itu lebih berkelas..!" "Cie yang motor baru.." Goda Intro kemudian. "Mbi, sekarang ini zaman edan, jangan terlalu percaya sama yang namanya cinta." Cela Eks. Baru saja aku ingin menjawab, tiba-tiba suara Togar, seperti biasa, selalu menggelegar. "Adam!!!! Berisik kau! Pagi buta sudah kayak orang gila bicara sendiri, masih ngantuk tau!" "Eh! Pemalas! Bangun kau. Gua lagi ngobrol ama motorku nih.." "Dasar gila kau, Dam!" Cerocosnya. ************** Selesai kuliah aku sudah siap di pelataran parkir kampus menunggu Hawa, sekaligus meninggalkan Togar. Dia pasti mengerti. Karena hari ini aku adalah hari yang kutunggu sejak lama. Setengah jam kemudian sebuah mobil mewah berhenti tidak begitu jauh dari posisiku berdiri sambil bersandar di sepeda motor bututku. Kemudian seorang pemuda yang tak kukenal keluar dari mobil tersebut. Sepertinya ia bukan salah satu mahasiswa di kampus ini. Ia terlihat gagah dengan kemeja putih bersih yang dipadu dengan celana jins biru. Wangi tubuhnya bisa kucium dari hembusan angin. Wajahnya tersenyum ketika menyadari aku yang sedari tadi memperhatikannya. Senyum semakin melebar ketika aku membalasnya. Bukan melebar karena senyumku, bukan. Tapi kepada seorang gadis manis yang berjalan tepat di sampingku. HAWA Mereka kemudian saling melambaikan tangan. Lalu gadis itu berhenti sejenak kemudian menoleh sejenak, melihat aku yang semakin salah tingkah. "Hey, Dam. Tumben kamu di sini, biasanya kan di area parkir sepeda sebelah sana menungguku." Ujarnya. "Ahm..! Aku, aku.." "Kamu kenapa?" Belum sempat menjawab, lengannya langsung di tarik oleh pemuda tadi. Dan aku hanya bisa pasrah ketika mereka berdua masuk ke dalam mobil itu lalu meninggalkanku yang masih shock. Hatiku seperti disiram dengan timah panas. Lalu aku duduk di atas sepeda motor yang sedari tadi setia di situ menunggu untuk di tunggangi. Aku melihat wajah sendiri di kaca spion itu. Suasana parkir yang sepi membuatku semakin sendu. "Tuh,.kan.. Apa gue bilang! Cinta itu gak seperti apa yang kita harapkan!" Celoteh Eks. "Mbi, kamu jangan berprasangka buruk dulu, mungkin saja pemuda tadi salah satu keluarganya." Intro menasehati. Aku hanya bisa terdiam. Sementara di dalam hatiku air mata seakan mengalir deras. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kantin lalu menyuci piring yang menumpuk. Bu Tina si pemilik kantin itu hanya menggeleng ketika melihat keadaanku yang berbeda. Sepertinya ia cukup memahami. Begitu pun dengan Togar, sahabat yang satu itu turut membantu membilas piring. Melihat wajah sedihku dia pasti mengerti, cinta memang terkadang kejam bahkan terlalu kejam untuk menyia-nyiakan sebuah ketulusan. ****************** Tiga hari aku berduka. Tiga hari juga menjauhinya. Kecewa. Tapi semua itu hilang ketika lelaki yang pernah membuatku cemburu buta itu menemuiku langsung ketika jam kuliah usai. "Kenalin, gua Ari. Sahabatnya Shifa." "Ooo.." Jawabku asal. "Hawa sedang sakit. Penyakitnya kambuh lagi. Sekarang tengah dirawat intensif di sebuah rumah sakit." Paparnya. "Sakit? Sakit apa? Bukannya kemarin baik-baik saja?" Tanyaku dengan ekspresi kaget. "Ada hal yang perlu lu tau tentang Shifa. Dia sahabat kecil gua, sejak dini menjadi seorang yatim piatu. Dia diadopsi oleh keluarga yang cukup kaya. Hidupnya memang berubah. Bahkan agar tidak berpisah dengannya aku rela bekerja sebagai sopir pribadinya." Ari memaparkan dengan wajah sedih. "Jadi.." "Ya, benar Dam. Gua hanya seorang sopir pribadi. Belakangan ini hidupnya bahagia. Katanya, kenal sama lu adalah sebuah kebahagiaan yang berbeda. Lu juga merupakan sebuah kesedihan bagi dia. Karena sebenarnya dia mengidap penyakit kanker tulang belakang stadium akhir." Mendengar semua itu aku terbelah. Hancur berkeping-keping. "Gua mohon, bawa gua segera kepadanya, Ri." Ari segera membawaku ke sebuah rumah sakit di daerah Jakarta Selatan. Aku benar-benar gugup. "Mbi, tenang. Berdoa aja, semoga semua bisa dilalui dengan baik." Bisik Intro. "Heh! Dam! Laki-laki itu kaga boleh cengeng!" Bisik Eks kemudian. Setelah setengah jam terjebak macet. Mobil mewah berwarna putih itu memasuki pelataran sebuah rumah sakit. Ari memarkirnya dengan rapih. Aku mengikuti setiap langkah pemuda itu. Kegugupan menyerang dengan cukup brutal. Kami berhenti di depan pintu yang bertuliskan VIP 1 dan ketika pintu di buka dua orang tengah berada di sisi kiri maupun kanan gadis yang masih terbujur di ranjang itu. Mereka adalah orang tua angkatnya. Kami sempat berkenalan. Sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu, aku duduk menatap iba bahkan hancur di sisi kanannya. "Jangan sedih, aku baik-baik aja kok." Kata Hawa dengan nada serak. "Kenapa kamu gak cerita kemarin? Mengapa telat ngabarinnya?" Protesku. Gadis itu menghela nafas panjang. Tatapannya beralih ke monitor pendeteksi denyut nadi di sisi kiri atas. "Dam, kalau usiaku tinggal beberapa jam lagi,.. " "Sstt! Aku nggak suka mendengar kalimat seperti itu! Aku mau kamu semangat, berjuang untuk tetap hidup, bukan hanya demi aku, tapi semuanya." "Maaf kalau kehadiran aku di hidup kamu nggak bisa bertahan lama. Banyak kisah yang ingin aku ukir ukir bersamamu. Tapi.." Dia menggenggam jemariku. Bulir air mata mengalir perlahan di pipinya yang pucat. "Malam nanti aku akan di operasi. Jika usiaku hanya cukup di hari ini, apakah kisah kita juga bakalan putus?" Pertanyaan itu. Pertanyaan bodoh yang pernah kudengar. "Hawa, kamu pernah denger nggak cerita tentang nabi Adam & Hawa? Apakah mereka pernah putus?" Pertanyaan itu membuatnya tersenyum. "Nama kita ada di Al-Quran ya? Berarti kita abadi dong..! Tapi bukankah nggak ada yang abadi di dunia ini?" Aku terdiam. Aku benci mendengar kalimat itu. "Dam, jika hari ini adalah hari terakhir aku berada di sisi kamu, apa yang akan kamu lakukan? Aku mau denger sesuatu yang belum aku tau dari kamu." Aku menggenggam tangannya lebih erat. Perlahan mengecupnya. "Kamu tau nggak, aku mau ngajak kamu jalan-jalan naik sepeda motor bututku. Aku ingin membuat kamu bahagia dengan caraku sendiri." Hawa tersenyum bahagia. Ia baru menyadari akan hal itu, mengingat ketika aku tengah berdiri di samping sebuah sepeda motor. "Oh ya? Aku mau,.terus apa lagi?" "Kita akan jalan-jalan terus, dan akhirnya aku akan melamarmu. Kita akan menikah setelah lulus kuliah nanti." Gadis itu tersenyum lagi. Wajah pucatnya akhirnya merona. "Oh ya, aku mau kenalin dua sahabat aku ke kamu, tapi jangan takut ya. Mereka nggak serem kok." "Mana? Suruh mereka masuk aja, Dam!" "Mereka ada di sini kok, nih yang satu di kanan aku, dan yang satunya di sebelah kiri." "Mana? Kok nggak keliatan?!" Wajahnya semakin merona. Terpaksa aku harus membuka rahasia terbesarku selama ini hanya demi membuat ia bahagia. "Wa, mereka sebenarnya bukan hantu, aku mengenalnya sejak beberapa bulan yang lalu di kampus kita, toh aku anak Psikologi, jadi di kelas, aku sering membaca saat mahasiswa lain belum pada dateng, tiba-tiba dua orang ini menghampiri. Lebih tepatnya menjahiliku sih.." Pasien cantik itu pura-pura ketakutan. "Nih, yang di kanan namanya Introvert. Dan yang sebelah kiri namanya Ekstrovert. Mereka itu selalu ada di saat aku sedih maupun bahagia. Dan mereka menyapaku sebagai Ambivert." Dia tertawa. Sepertinya tertarik. "Eks, Intro, beri salam dong ama pacar aku.." Kataku. Lalu kedua mahluk tak kasat mata itu melambaikan tangan seakan dilihat oleh Hawa. Hawa terlihat bahagia. "Dam, thanks banget ya udah menghiburku dengan lelucon keren kamu, aku suka." Ujar Hawa dengan senyuman manis yang pernah membuatku sampai diabetes. "Mereka nyata, Wa. Kamu mau lihat mereka?" Pertanyaan itu membuatnya semakin tertawa. "Dam, udah deh. Aku percaya kok sama kamu." "Eks, Intro, Show your self." Titahku. Perlahan dua sosok tak kasat mata itu menampakkan diri. Hawa terkejut, tapi sekaligus kagum. "Dam, mereka benar-benar ada?" "Kami nyata, aku Introvert, aku sahabat bagi para pendiam." Intro memperkenalkan dirinya dengan gaya terbaik yang pernah ia lakukan. "Dan aku, adalah sahabat bagi setiap orang yang menyukai keramaian. Aku adalah Ekstrovert." Eks melakukan hal yang sama dengan Intro. Hawa benar-benar terkesima. Tiba-tiba pintu diketuk dari arah luar. Kedua sahabat gaibku menghilang seketika. "Nona Hawa, kami periksa denyut jantungnya dulu ya.." Kata seorang Dokter bersama dua suster pendamping di sebelahnya. Aku segera keluar dari ruangan itu. Nanti malam adalah salah satu detik mendebarkan dalam hidupku. ******** Ruang Operasi Hawa tengah memperjuangkan hidupnya. Sementara aku tidak tenang di luar ruangan itu. Ari maupun Togar terus menenangkan, tapi semua upaya mereka sia-sia. Tidak ada yang bisa tenang di dalam sini. Keluarga Hawa pun demikian. Mereka terus berdoa. Beberapa menit kemudian dokter keluar dengan kepala menunduk. Ayah dan ibu Hawa mendekati. "Dok, bagaimana hasil operasinya?" Tanya ayah angkat Hawa. "Dia kritis, tetapi bibirnya selalu mengucap sebuah nama." "Nama?" Tanya ibu Hawa. "Adam." Kata dokter. Aku terkejut, nama itu adalah namaku. Dia kenapa? "Adam, coba kamu hadir di sisinya, mungkin saja dia bisa kuat." Ujar dokter paruh baya itu. Aku tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan itu. Melihat ia yang sekarat. Sesekali kudengar suara seperti berbisik. Nama itu, namaku. Ia menyebutnya terus menerus. "Hawa. Ini aku, Adam!" Percuma. Suaraku tak mungkin didengarnya. "Hawa, kamu harus kuat, tetaplah hidup! Setelah ini.kita akan jadian, kita akan menjadi sarjana bersama. Lalu kita tidak akan pernah putus sampai kita menikah nanti!" Namaku masih saja terdengar dari bibir ranumnya. Tiba-tiba monitor di sisi kiri berbunyi, dan garis yang awalnya bergelombang kini menjadi garis lurus. Bunyi itu begitu bising, hingga merasuki jantungku. Aku seperti dihujam ratusan peluru. "Dokter!!!!!!" Suara teriakanku menggema. Dokter dan suster segera masuk. Mereka memeriksa sekali lagi, memompa dada gadis itu, menyengat dadanya dengan sengatan listrik dari sebuah alat seperti setrika. Percuma. Perlahan Ekstrovert maupun Introvert hadir di dalam ruang operasi itu. "Mbi, Hawa sudah tenang. Dia akan membawa kami juga. Terima kasih sudah menjadi teman kami selama ini." Ujar Intro. Air mata membasahi pipi. Aku seperti kehilangan semuanya. Aku benar-benar ditinggal pergi oleh mereka. "Adam sayang." Suara itu, sapaan itu. Aku segera melihat tubuh Hawa yang kaku di ranjang itu. Bukan berasal dari tubuh itu. "Adam, ini aku. Di samping Eks." Aku memalingkan wajah. Melihat Eks yang berdiri di sisi seorang gadis bergaun putih bersih. "Hawa!" Melihat wajahnya tersenyum. Aku rubuh seperti awalnya kami dipertemukan. Pertemuan yang singkat. Gelap. Aku terbaring di atas lantai. *********** Dua tahun kemudian Aku dan Togar berhasil menjadi seorang sarjana dengan gelar sesuai jurusan masing-masing. Togar memilih untuk menjadi seorang seniman, di bidang seni musik, dan aku menjadi seorang Psikolog. Selain berhasil menjadi seorang penulis setelah menerbitkan karya perdana; ADAM DAN HAWA TIDAK PERNAH PUTUS Ketika berdada di sebuah forum Book Signing tak sengaja seorang pembaca bertanya : "Kak Adam, siapa saja yang menjadi inspirasi kakak dalam menulis Novel ini?" "Mereka ada di sekitar kalian, tepatnya di sudut sana." Aku menunjuk sebuah pojok kosong di ruangan itu. "Mereka adalah Hawa, Intro, dan Eks." Penuturanku membuat si penanya pucat. ***SELESAI***
Etzar Sastra
"Segala Sesuatu Memiliki Kekurangan dan Kelebihan Masing-Masing Sesuai Sudut Pandang Yang Berbeda. "

Cerita Lainnya

Tak perlu banyak alasan untuk memulai.

Punya banyak alasan tak membuatmu maju ...

Menantimu di Ujung Senja

Inilah aku yang tak pandai mengelola perasaan hingga harus menjatuhkan hati padamu ...

Nilai - Ikatan yang Hilang

Kisah nyata seorang anak yang berasal dari keluarga broken home yang diharapkan dapat meng ...

BACKPACKING KE UJUNG KULON TIBA TIBA DITANGGERANG?!

cerita seorang backpacker yang kagak ada tujuan, di palakin sama preman hingga bertemu ora ...

CERITA PENDIDIKAN di TAPAL BATAS LAUT INDONESIA-AUSTRALIA

Satu tahun mengabdi telah terlewati, namun meja kami tak kunjung terganti ...

anak kota merantau ke desa

sebuah cerita perjalanan merantau pertama ku, semoga cerita nya bisa di terima dan bisa me ...

Bapak Pahlawanku

Disaat kamu sukses kamu tidak akan diangggap remeh oleh orang-orang dan kamu akan mengangk ...

Tentang Kami

Contacts

Alamat : Jl. Wilis kramat no. 64 Nganjuk Jawa Timur
Email   : ordermanten@gmail.com
Phone  : + 6 2 8 1 2 8 4 0 7 3 0 0 6


Follow Us
  testing      
Maps