Dan Kamu

Diposting pada 2017/09/30 oleh Sarah Budi Safira 704 view
Apa yang kalian rasakan saat seseorang yang begitu kalian cintai meninggalkan kalian untuk selama-lamanya? Dan sakit yang mendalam yang aku rasakan saat adikku yang begitu aku cintai pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Itulah kata-kata yang selalu muncul di benakku dan aku tak pernah bisa menghilangkan pikiran itu hingga sekarang. Adikku yang begitu aku cintai Charina Kumawa, yang mengenali diriku dengan sepenuhnya, yang dapat mengerti keadaan hatiku, tak pernah aku kira takdir terjadi seperti sekarang, Charina meninggal saat usianya berumur 10 tahun dan saat itu aku berumur 14 tahun. Aku begitu kehilangan dirinya. Aku benar-benar kehilangan arah dan tujuanku. Hingga saat ini aku tak mempunyai satu orang pun teman, bahkan tak pernah satu kali pun aku tersenyum. Semua orang menjauhiku, bahkan mungkin benar-benar membenciku. Aku tak sekali pun bicara, terkecuali jika memang keadaan yang mendorongku untuk berinteraksi dengan orang lain, dan aku berbicara kepada guruku hanya untuk urusan tugas. Di sekolah aku duduk sendiri di barisan paling belakang, tak ada yang mau menemaniku, semua orang menganggapku aneh. Saat orang berbicara padaku, aku tak pernah memandang bahkan tak menjawab apa yang orang-orang bicarakan padaku, aku diberi julukan patung oleh teman-temanku, aku sudah kebal dengan ejekan-ejekan teman-temanku, aku sudah terbiasa dengan hal itu. Tak ada gairah dalam esensi hidupku, aku pun tak ada niatan untuk merubah segalanya menjadi lebih indah dan berwarna, aku biarkan kehidupan kelam ini mengalir dalam setiap hembusan nafasku, aku biarkan kesunyian hidupku mengalir dalam aliran darahku. Aku merasa semuanya sudah tak berarti lagi, yang aku harapkan adalah mengakhiri hidup ini, tapi… aku tak berani melakukan itu, aku sudah benar-benar bosan dengan kehidupan ini, setiap detik, menit dan jam aku selalu menunggu kematian datang menjemputku, berharap malaikat kematian itu membawaku pergi dari gemerlapnya dunia yang jenuh ini. Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat berada, dari ayahku yang bernama Ben Dani, ayahku memiliki banyak perusahaan dimana-mana, hmm tapi Ben Dani jadi ayahku saat dulu, kini ia bukanlah lagi ayahku dan aku menganggapnya musuh terbesar dalam hidupku, aku sungguh enggan untuk menyebut namanya atau untuk mengingat bahwa ia pernah bertanggung jawab atas kehadiranku di dunia ini. Begitu pun dengan ibuku, setelah ayah meninggalkannya, ia tak pernah lagi mengurusi aku dan Charina, hingga akhirnya Charina meninggal. Ibuku yang bernama Rosa Dona, adalah seorang wanita karir yang bisa dibilang cemerlang, ia adalah direktur sebuah perusahaan. Tapi melihat tingkahnya yang seperti iblis itu akhirnya aku tak mau menganggapnya lagi sebagai ibu, sosoknya yang tergambarkan begitu bobrok dihadapan mataku, sosok yang tak pantas untuk dicontoh. Aku tinggal bersama ibuku, setiap hari ia pulang malam, terkadang jalannya sempoyongan dan tercium bau alkohol di mulutnya dan selalu terselip rokok di sela-sela tangannya. Jika saja aku bisa menggambarkan keadaan hatiku saat ini, aku yakin keadaan hatiku sudah tak memiliki rupa dan tak bisa untuk digambarkan. Perceraian itu, meninggalkan luka yang tak dapat terobati dalam batinku, kepergian adikku, tak dapat menumbuhkan kembali keceriaan dalam senyumku. Aku rindu suasana keluargaku bertahun-tahun lalu, saat aku tak dibebani dengan tanggung jawab, saat aku tak mengerti makna sakit hati, saat aku tak mengerti arti sebuah perpisahan dan hanyalah kesenangan hatiku yang orang-orang terdekat yang mereka berikan kepadaku. BREATHE NO MORE - Evanescence I’ve been looking in the mirror for so long That I’ve come to believe my souls on the other side Oh the little pieces falling shatter Shards of me to sharp to put back together To small to matter But big enough to cut me into so many little pieces If I try to touch her And I bleed I bleed and I breathe I breathe no more Take a breathe and I try to draw from my spirits well Yet again you refuse to drink like a stubborn child Lie to me convince me that I’ve been sick forever And all of this will make sense when I get better But I know the difference Between myself and my reflection I just can help but to wonder Which of us do you love So I bleed I bleed and I breathe I breathe no Bleed I bleed and I breathe I breathe I breathe I breathe no more *** “Hey dek, gimana kabar kamu hari ini? Kakak kangen banget sama kamu… inget waktu dulu kita main di taman dek? Waktu itu kita bisa ketawa bareng, walau kakak tau kamu ga sekuat kakak, tapi jiwa kamu selalu kuat dari kakak dek, ohiya dek kakak sedih nih dan ga ada yang hapus air mata kakak kaya kamu dulu waktu hapus air mata kakak, pasti kamu juga kesepian ya sendiri disana? Tenang aja dek, kakak selalu datang kok buat kamu disini, ohiya dek, kalo kakak tidur tuh kakak suka mimpiin kamu, kayanya kalo kamu masih ada disini, kamu udah gede dan cantik deh, kita bisa curhat bareng.” Isakku dengan penuh air mata. Saat keadaan hatiku tak karuan, aku selalu datang ke makam adikku, disanalah aku dapat menghabiskan waktuku untuk berbicara, hanya di makam adikku, hanya untuk adikku yang sudah tak ada. Penjaga makam pun sepertinya sudah menganggap aku gila karena hampir setiap hari aku kemari dan menangis sesenggukan serta berharap pada sebuah pemakaman kecil, aku tak perduli saat orang-orang menganggapku gila, itu hanya persepsi sesaat. Aku selalu ingin berada dekat dengan adikku dengan cara seperti ini. Setiap kali aku mencurahkan semua isi hatiku di makam adikku, perasaanku sedikit lebih tenang. Aku selalu merasa bahwa adikku tetap menemaniku dalam ke-gaib-annya. “Tenanglah kamu disana dek, semoga secepatnya kakak bisa nyusul kamu di keabadian.” Ucapku dengan nada berat. “Permisi.” Suara seorang pria mengagetkanku. *** Waktu terus bergulir dan hari-hari pun terus berganti, aku menjalankan rutinitasku dengan kehampaan dan kekosongan, aku pergi sekolah tanpa harapan apapun, setelah itu aku pergi ke makam adikku untuk sekedar mencurahkan isi hati, lalu aku pulang ke rumah dan diam dalam kamarku hingga hari berganti, benar-benar monoton. Bagiku ini adalah fantasi, aku nyaman dalam kekelaman ini. Aku masih ingat bagaimana rasanya pelukan hangat orang tua, masih membekas dengan jelas dalam otakku rekaman tawa bahagia itu, kini semuanya telah terkubur dan memang sepertinya tak akan pernah bisa terulang kembali. Aku pun masih ingat kebohongan orang-orang yang mencoba mendekatiku, saat itu waktu aku masih duduk di bangku SMP, sahabatku yang begitu aku percaya dan aku benar-benar bergantung kepadanya tenyata tak sesetia yang aku kira, ia sudah lelah dengan tingkahku yang tidak mau berinteraksi dengan siapa pun. “Emily, aku sudah bosan berteman denganmu. Kenapa kamu selalu ingin dimengerti sama aku, tapi kamu ga pernah mengerti aku.” Ucapnya penuh kekesalan. Setelah ia berkata seperti itu, maka pergilah ia meninggalkanku dengan luka. Saat itu aku hanya ingin orang-orang yang aku sayangi bisa mengerti akan keadaan batin dan perasaanku, namun ternyata orang-orang yang aku sayangi malah membuatku terluka. “Tuhan, kenapa orang-orang yang begitu aku sayangi, membuatku merasakan sakit yang begitu mendalam, apa aku tak pantas untuk bahagia? Apa aku harus membayar semua kebahagiaan yang pernah terjadi? Agar aku tak kehilangan kebahagiaan itu? Tuhannnn.” Lirihku dalam hembusan nafasku. Ya, memang benar. Dulu, orang tuaku yang sangat aku cintai, saat aku bergantung menumpukan kebahagiaan hidupku kepada mereka, ternyata itu sebuah kesalahan besar. Adikku, satu-satunya orang yang paling mengerti aku, Tuhan memanggilnya lebih dulu, kenapa hidup ini tak adil bagiku Tuhan? Kemudian, saat aku mengira sahabat-sahabatku bisa setia menemaniku hariku, ternyata meninggalkanku juga. Setelah kejadian itu, aku sudah tak bisa percaya lagi kepada siapa pun. Aku lebih baik hidup sendiri, menunggu kematian itu menghampiriku. *** Hari senin pagi ini, aku berangkat sekolah sendiri dan memang akan selalu sendiri hingga kapan pun. Aku memang orang berada, tapi untuk pergi sekolah aku lebih memilih untuk berjalan kaki saja dan tak tertarik untuk menaiki angkutan umum. Aku tak pernah ingin menggunakan barang-barang milik ibuku, aku merasa tak berhak atas semuanya, termasuk telepon genggam, laptop atau bahkan motor dan mobil. Aku tak pernah ingin meminta apapun kepada ibu, aku benar-benar enggan meminta pertolongan kepadanya, tapi untuk masalah uang, itu salah satu keterpaksaan terbesar dalam hidupku. Aku harus meminta kepada ibuku, dan aku harus berinteraksi dengan ibuku, aku benar-benar benci hal ini. Aku terus berjalan, menyusuri setiap sudut jalan, sepertinya hari ini aku terlambat datang ke sekolah dan ini hari senin, pastilah hari ini ada upacara, ah membosankan sekali hidup ini. Aku mempercepat langkah kakiku, setelah beberapa menit berlalu aku tiba di gerbang sekolah dengan nafas tak beraturan. Aku terlambat satu menit dan aku segera bergegas menuju kelas, aku menyimpan tasku dan langsung pergi ke lapangan untuk segera mengikuti upacara rutin setiap hari senin. Beberapa jam berlalu upacara pun selesai, aku buru-buru masuk kelas dan duduk diam seribu bahasa. Tak ada suara, tak ada senyum dan tak ada gairah. Saat ini aku duduk di bangku SMA, SMAN 900 Jakarta tepatnya kelas XI IPA-1. Aku bisa masuk IPA-1 karena orang-orang menganggapku pintar, begitu pun para guru yang bangga terhadap kepintaranku, tapi rasa bangga orang-orang itu seketika hilang dan berubah menjadi rasa jijik karena tingkahku yang sungguh tidak menyenangkan, semuanya sia-sia bagi mereka. Tapi aku sendiri tak merasa bangga sedikit pun atas prestasi yang aku raih, aku menganggap itu semua hanya kebetulan semata. Beberapa menit kemudian wali kelas XI IPA-1 masuk ke kelas dengan membawa seorang laki-laki, aku tak dapat melihat wajahnya, ia menghadap ke papan tulis untuk melihat bagian depan kelas. Laki-laki ituterus mengikuti langkah bu Amanda “Anak-anak, kalian punya teman baru, ibu harap kalian bisa saling bekerjasama dan bisa menerima kehadiran teman baru kalian.” Ucap bu Amanda tegas. “Baiklah teman-teman, perkenalkan namaku Alvin Kenan. Aku pindahan dari SMA 809, aku harap temen-temen semua bisa nerima aku disini.” Ucap laki-laki itu dengan keramahan wajahnya. Setelah laki-laki itu yang aku tau namanya adalah Alvin, ia segera mencari tempat duduk. Duh… dia akan duduk denganku, karena kulihat tak ada lagi kursi yang kosong. Ia segera menghampiriku dan memberikan senyuman kepadaku, tapi aku tak memberikan respon apapun, aku hanya menatapnya dengan penuh prasangka. Hmm, aku terus menatapnya dengan saksama, rasanya aku tidak asing dengan wajah laki-laki ini. Aku terus mengingat kembali, hingga akhirnya aku teringat bahwa laki-laki ini adalah orang yang pernah mengagetkanku di makam waktu itu, aku sudah membencinya saat aku lihat ia mengusik kebiasaanku. Aku tak suka saat pertama melihatnya, ini bukan awal yang baik dan aku tak ingin berteman dengannya. “Hey, loohhh, kamu kan yang waktu itu di… hmm, aku lupa, tapi rasanya aku pernah melihatmu.” Tebaknya dengan lagak sok kenal sok dekat kepadaku. Seperti biasa, aku hanya memberikan tatapan serius dan tak memberikan reaksi apapun. “Hmm namaku Alvin, bolehkah aku kenalan sama kamu?” Tukasnya lagi, kali ini ia mengulurkan tangannya. Aku hanya terus menatapnya dalam-dalam, aku tak menjawab uluran tangannya, hingga beberapa detik aku kembali fokus dengan guru di depan kelas dan aku tak menghiraukan lagi laki-laki menyebalkan di sebelahku ini. “Baiklah, tak apa, setidaknya aku punya tempat duduk.” Ucap Alvin. *** Bel berbunyi, waktunya istirahat. Aku tak pernah pergi ke kantin, aku selalu duduk diam di dalam kelas atau tidak, pergi ke perpustakaan membaca buku-buku yang jarang tersentuh oleh siswa-siswa lain. Tapi kali ini aku lebih memilih untuk duduk di dalam kelas. “Hmm, ohiya aku pernah melihatmu di pemakaman, saat itu aku melihatmu sedang menangis di batu nisan seseorang, kalo ga salah sih namanya Charina Ku… hmm pokonya itulah. Ngomong-ngomong aku turut berduka cita ya.” Ucap Alvin lancang. Aku benar-benar terganggu dengan orang menyebalkan yang satu ini. Aku mulai geram mendengarkan ucapan panjangnya yang pertama kali di ucapakan kepadaku. Aku kembali menatapnya lekat dan tetap tak memberikan reaksi apapun kepadanya. Hatiku benar-benar yakin tak akan pernah ingin mengenalnya, saat pertama bertemu saja sikapnya sudah membuatku tak nyaman. *** Siang ini pulang sekolah, aku langsung pergi ke makam adikku seperti biasanya. Entah kenapa, rasanya aku selalu merindukan hal ini, satu hari saja aku tak mengunjungi makam adikku rasanya aku sangat panik dan gelisah, hanya di makam adikkulah aku merasa tentram dan damai. “Dek, kabar kamu hari ini gimana? Kamu tau arti sebuah kasih sayang? Pasti rasanya hangat dan bisa memberikan kenyamanan. Tapi… rasanya kemana pun kakak nyari, kakak tak pernah bisa nemu kasih sayang itu dek, seandainya aja kamu masih ada disini, disisi kakak, pasti kakak bakalan ngasihin kasih sayang terbesar kakak buat kamu, karena kakak tau gimana rasanya kehilangan, itu bener-bener ga enak dek.” Tak terasa air mataku mulai mengalir setetes demi setetes membasahi makam adikku. *** Sore ini aku tiduran di kamarku mendengarkan instrumen kematian dengan volume sangat kencang di telingaku seraya menatap langit-langit kamarku, masih tetap berharap akan datang malaikat kematian tersenyum menyeringai penuh dendam kepadaku, agar malaikat itu bisa dengan mudahnya mencabut nyawaku. Aku tak pernah berbicara dengan ibuku, terlebih ia pulang malam dan pagi-pagi sekali harus pergi lagi bekerja, aku tak suka itu. “Tuhan, aku sendiri, dalam hatiku yang terdalam aku benar-benar merasa takut, jiwaku kaku, qalbuku beku. Aku takut hati ini tak bisa lagi terbuka untuk mengembalikan kebaikan di dalam diriku. Tuhan, aku rindu suasana dulu saat aku bisa tertawa, bahkan kini aku sudah lupa bagaimana rasanya tertawa, aku lupa bagaimana rasanya kehangatan sebuah pelukan itu, aku lupa dengan semua hal yang menyenangkan, kini hanya kekelaman yang menyelimuti hariku, dengan penuh cacian, tangisan dan kemarahan. Aku benar-benar takut Tuhan.” Rintihku dalam hati, aku ingin menahan air mata ini untuk tidak keluar, tapi dorongan besar itu membuat air mataku keluar, aku memang cengeng, lemah dan tak berdaya. Setiap hari aku hanya makan pagi dan malam, aku tak merasa lapar. Aku menanggung beban yang sangat berat, beban itu tak aku pangku tapi beban itu diam di otakku, sehingga menganggu segalanya. Makan nasi saja sudah cukup bagiku, lambat laun aku terus menyakiti diriku, aku tak mempedulikan kesehatanku, aku benar-benar tak peduli dengan segala hal, hidup ini sungguh tak adil bagiku. *** Hari selasa di sekolah, masih pagi begini aku sudah disuguhi dengan pemandangan tak enak di hadapan mataku, laki-laki menyebalkan itu sudah duduk di sebelah bangkuku dan melemparkan senyuman kepadaku saat aku mulai memasuki kelas, karakternya yang terlihat sok-sok-an itu semakin membuatku tak menyukainya. Aku terus menatapnya seperti biasa, tapi aku tak membalas senyumnya, lalu aku duduk di sebelahnya. “Hey gadis cantik, bolehkah aku tau namamu?” Rayu Alvin. Aduh, masih pagi begini sudah membuat atmospir sesak, orang ini semakin membuatku membencinya. Tak ada sedikit pun hormon tiroksin bahagiaku untuk selewat saja menyukainya. “Ohiya, aku liat kamu begitu lancar ngomong di makam, bahkan aku kira itu terlalu over, tapi disini kamu tak bersuara satu nada pun.” Sindir Alvin membuatku benar-benar kesal. Aku tak membalasnya dengan apapun, aku hanya menatapnya dengan lekat. Biarkan orang menyebalkan ini merasakan kesal yang teramat sangat dalam kepadaku karena tingkahku yang tak menyenangkan ini. Aku mengepalkan tangan menahan amarahku, jika saja aku tak berperikemanusiaan pasti aku akan menghantam wajahnya dengan sekuat tenagaku, tapi aku tak bisa melakukan itu karena seburuk ini pun dalam hatiku masih terselip rasa kemanusiaan. Aku duduk menunggu bel masuk berbunyi, laki-laki menyebalkan itu tak berkata apapun, aku melihat dari ujung mataku bahwa ia sedang memperhatikanku. Aku menolehkan wajahku, lalu mataku bertabrakan dengan pandangan matanya, beberapa detik aku saling bertatapan dengannya. Tak ada maksud apapun dalam tatapanku itu, hanyalah kebencian yang membara. Akhirnya bel masuk pun berbunyi, rasa kesal dihati mulai mereda. Pelajaran pertama adalah pelajaran fisika. Murid-murid seketika mencintai fisika karena gurunya yang bisa membawa fisika menjadi suatu pelajaran yang mengasyikan, aku pun merasakan hal itu. Bu Diana tepatnya yang mengajarkan pelajaran fisika, hanya dengan guru ini aku merasa nyaman, ia benar-benar mengayomi semua muridnya, walaupun ia tidak memberikan pendekatan secara eksklusif kepada satu per satu muridnya. “Hmm anak-anak, pertemuan kali ini ibu akan memberikan kalian latihan soal, ibu tidak akan berada dalam kelas selama pelajaran berlangsung karena ada kepentingan, nanti kalau sudah dikerjakan kumpulkan di Boy.” Ucap bu Diana seraya memberikan tugas latihan soal fisika. Ohiya Boy adalah ketua kelas di kelas XI IPA-1. *** Aku membuka tasku untuk mengambil alat tulis, tapi setelah aku raba di semua sudut tasku, aku tak kunjung menemukan tempat pensilku tapi aku terus mencarinya. Tiba-tiba Alvin mengulurkan tangannya memberikan pensil kepadaku “Nih pake punyaku.” Ucapnya, “Thanks.” Balasku sangat singkat. Aku langsung mengerjakan soal-soal fisika yang diberikan bu Diana, lumayan mudah soalnya, aku lihat Alvin menggaruk-garuk kepalanya seraya menghapus tulisan-tulisan pensil di bukunya, selang beberapa menit kemudian ia menghadapkan badannya ke arahku, “Hmm, hey gadis… kamu mau ajarin aku gimana caranya ngerjain soal ini?” Tanya Alvin dengan ekspresi keliru. Aku menatapnya sesaat dan belum memberikan respon apa-apa, “Ayolah tolong aku.” Nadanya memohon. “Kenapa kamu masuk IPA?” Tanyaku kepadanya. “Aku ingin menjadi dokter, aku harus masuk IPA.” Balasnya. “Yakinkan dirimu.” Jawabku singkat. Aku tak menghiraukannya lagi, ia terlihat bingung, mungkin ia sedang memikirikan ucapanku, ah aku benar-benar tak peduli dengannya. “Hey, ayolah bantu aku, aku benar-benar tak mengerti, tolong aku gadis cantik.” Ucapnya dengan rayuan. “Waktu adalah uang.” Ucapku sedikit berteriak karena aku kesal melihat laki-laki seperti Alvin ini, untuk mengerjakan soal seperti ini saja ia tidak bisa, bagaimana jika ia jadi dokter, pasti ia tak akan bisa menjawab keluhan pasien. Tiba-tiba saja seisi kelas menatap ke arahku, memandangku dengan tatapan aneh “Hahaha tumben tuh patung ngomong.” Ujar Cindy memprovokasi teman-teman yang lainnya, lalu dengan seketika kelas riuh dengan tawa hina yang ditujukan kepadaku. Entah mengapa kali ini aku merasa hinaan ini terasa sangat menyayat hatiku, padahal aku biasa dipanggil patung dan tak terasa pula air mataku mengalir dengan derasnya. “Kali ini jadilah orang tuli.” Ucap Alvin berbisik di telingaku dan menenangkanku seraya menggenggam halus pergelangan tangaku. Dan baru kali ini aku merasa ada seseorang yang melindungiku. Tapi mengapa orang yang membelaku harus Alvin, laki-laki yang benar-benar aku benci. *** Aku tetap seorang gadis yang dipandang aneh oleh orang-orang, walaupun Alvin selalu merayuku dan pernah melindungiku, aku tetap tak terbuka kepadanya dan rasa benciku masih tetap seperti saat pertama melihatnya, dan tekadku sudah berjanji tak akan pernah ingin dekat dengannya. Setelah pelajaran fisika selesai, bel istirahat pun berbunyi dan semua siswa berhamburan keluar kelas dan tujuan utama mereka adalah kantin, bagi orang-orang yang rakus pasti akan melakukan apapun demi mendapatkan makanan, untung saja di kelasku baik-baik saja, tak ada siswa yang terlalu over untuk makanan. “Hey, ke kantin yo cantik.” Ujar Alvin dengan tiba-tiba. Aku tak menghiraukan ucapan dan ajakannya, aku terus diam tapi Alvin pun tetap diam, aku muak jika sudah seperti ini, seperti sinetron saja. Aku memutuskan untuk bergegas meninggalkan kelas, terutama Alvin. *** Sore ini aku kembali ke makam adikku sekedar untuk mencurahkan perasaan hatiku yang tak pernah baik-baik saja. “Dek, kakak sedih banget hari ini, semua temen kakak ngetawain kakak, ga tau kenapa… rasanya sakit banget dek, tapi ada satu cowok nyebelin yang sering ganggu kakak, dia nolongin kakak dek dan dia ga ngetawain kakak. Kakak kangen banget sama kamu dek.” Rintihku dengan linangan air mata. Setelah aku selesai mencurahkan isi hatiku di makam adikku, aku langsung bergegas pulang ke rumah. Jarak dari pemakaman ke rumah lumayan dekat tapi jika ditempuh dengan jalan kaki akan terasa sangat jauh. Ohiya, setiap hari hanya aku yang selalu membersihkan makam adikku, ibuku? Ia tak pernah sekalipun menyentuh tanah pemakaman, yang ia pikirkan hanyalah uang,uang, uang dan foya-foya. Sedangkan mantan ayahku pun tak pernah sekalipun datang kemari atau untuk sekedar menanyakan keadaan ibuku ataupun aku. My heart is broken. Sepanjang perjalanan menuju rumah aku terus memikirkan tentang kebobrokan keluargaku,benturan persepsi yang begitu besar membuat kehancuran dalam keluargaku. Ah tapi masa bodo… aku benar-benar tak peduli. Aku terus menyusuri jalan menuju rumahku dan tak terasa beberapa menit kemudian aku sudah sampai di depan gerbang rumahku. Kulihat banyak mobil diparkirkan di halaman rumahku, hmm… tapi jika itu tamu, mengapa pintunya ditutup? Biasanya jika ada tamu pintu selalu terbuka. Aku terus melangkahkan kakiku menuju pintu depan, aku pegang gagang pintu berwarna emas dan kudorong pintu berwarna putih berukuran besar. Akhirnya pintu terbuka, kulihat ada pemandangan yang sungguh memuakkan dihadapan mataku dan tepatnya di dalam rumahku. Ya, ibuku sedang mengadakan pesta bersama teman-teman kerjanya. Aroma laknat tercrium jelas membelai hidungku, ya bau alkohol dan kepulan asap rokok. Yang sungguh biadab lagi adalah ada beberapa rekan ibuku sedang bercumbu, ya Tuhan… manusia laknat macam apa mereka semua. Apa mereka tak mempedulikan istri atau suami dan bahkan anak-anak mereka di rumah? Kotor sekali diri mereka. Aku benar-benar semakin tak ingin memikili ibu seperti itu, aku langsung bergegas menuju kamar tidurku dan langsung kurebahkan tubuhku di atas kasur empuk milikku. Setelah beberapa saat aku tiduran lalu aku memutar musik dengan volume full di speakerku, tepatnya aku mendengarkan musik beraliran screamo yang terdengar begitu membisingkan telinga. Tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk, aku langsung saja membukanya dan itu adalah ibuku, halah sudahlah… aku pun bisa berpesta disini sesuka hatiku. “Kecilin volumenya.” Bentak ibu padaku. Aku tak menjawab apapun seperti biasa, aku memelototinya dan saat ia mulai geram aku tutup pintu kamarku dengan sekencangnya. “Kurang ajar.” Tambah ibu dengan nada sedikit berteriak. *** Ternyata aku ketiduran, kulirik jam di dinding kamarku dan kini jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Lagudi speakerku masih terus berbunyi, aku lupa mematikannya sedari tadi sore. Aku segera bergegas keluar dari kamar tidurku lalu aku melihat ke lantai bawah rumahku, ternyata rumah sudah kosong tetapi keadaannya sungguh berantakan, ya, itu bekas ibuku berpesta dan mungkin mereka baru saja selesai sehingga pembantu rumahku belum membereskannya. Tuhan, mengapa mereka selalu mengandalkan orang lain untuk kewajiban mereka sendiri? Mereka telah berpesta dan membuat rumah menjadi berantakan, seharusnya kewajiban mereka adalah membereskannya kembali. Apa karena mereka memiliki uang jadi mereka bisa berbuat semena-mena? Uang telah butakan segalanya. Ya, walau kerja seorang pembantu adalah untuk membereskan rumah dan melayani majikannya, tapi bukan berarti segala hal harus dilakukan oleh pembantu juga. Kulihat sekeliling rumah, masih sama. Rumah mewah yang diimpikan banyak orang, tapi tak ada satu hal spesial pun di dalamnya. Apa yang orang impikan tentang kekayaan dan segala hal itu ternyata adalah hasrat yang sesat. Tak ada kasih sayang di dalamnya, tak ada keharmonisan. Tapi mungkin ini hanya aku saja yang mengalaminya, mungkin orang kaya lain tidak mengalami hal yang sama dengan yang aku rasakan. *** Aku duduk sendiri di bangku paling belakang, menunggu orang-orang malas berdatangan, terutama bel masuk berbunyi. Aku ingin cepat-cepat sekolah hari ini cepat berlalu, dimanapun aku berada aku tak pernah merasa nyaman, terkecuali di makam adikku yang sangat aku sayangi. Di rumah adalah neraka bagiku, begitupun dengan sekolahku. Nampaknya semua orang yang aku lihat adalah kepalsuan, tak ada sepersenpun hal yang nyata dalam diri mereka, saling membicarakan orang lain, padahal membutuhkan bantuan orang yang dibicarakannya. Saling memindas, tapi takut dengan aturan. Orang-orang bodoh macam apa mereka semua?, tapi mengapa aku jadi membicarakan hal ini? sumpah, aku benar-benar tak peduli dengan mereka. Untuk apa aku memikirkan mereka sedangkan aku pun tak mau memikirkan diriku sendiri. Seraya menunggu bel masuk berbunyi aku membaca buku, tapi tiba-tiba ada yang menggebrak mejaku dan orang itu adalah laki-laki yang sangat kubenci, ya, itu adalah Alvin si lelaki benalu. “Hey hey gadis cantik….” Nadanya dengan lagak sok dekat kepadaku. Dan responku hanya menatapnya dengan tatapan benci, bak seorang tirani yang menindas orang-orang lemah tak berdaya. “Ohiya, namamu Emily kan? Bener kan? Bener kan?.” Tambahnya lagi dengan suara centil, macam she male. Kali ini aku berdiri dari tempat dudukku dan menatap matanya dalam-dalam, aku lalu menggebrak meja dan segera berlalu dari hadapan Alvin, aku lalu pergi ke perpustakaan. Rasanya hari ini waktu lama sekali berlalu, dari tadi belum juga aku mendengar bel masuk berbunyi. Beberapa menit kemudian pun akhirnya bel berbunyi, aku segera bergegas menuju kelas dan kembali aku harus duduk disamping orang yang benar-benar aku benci. Saat aku duduk Alvin menatapku dengan tatapan yang tidak aku mengerti, ia terus menatapku dan aku benar-benar tak suka ini. Akhirnya aku membalas tatapannya, aku menunjukkan ekspresi yang tidak menyenangkan dan mungkin membuatnya gerah melihatku terus-menerus. “Emily, kamu tau ga gimana rasanya dicuekin? Ga enak loh, coba kamu ada di posisi yang sama, saat kamu ga di denger sama orang, tapi kamu tuh ngarep buat direspon.” Sepertinya ia sedang mengusik kebiasaanku yang selalu diam. Mengapa ia selalu mencampuri urusan hidupku? Apa yang ia inginkan dariku? Aku semakin membencinya, dengan caranya yang tak menyenangkan, dengan tingkahnya yang membuatku gerah. Tuhan, mengapa Kau berikan aku situasi seperti ini, tidakkah cukup bagiku keluarga yang suram? Saat aku tak ingin mengurusi orang-orang, selalu saja ada hal yang membuatku memikirkannya, aku hanya ingin berhenti berpikir tentang sosialisasi, interaksi dan semacamnya. Keadaan selalu menyiksa hidupku, waktu pun sungguh kejam menganiaya diriku dan gemerlap dunia ini menjauh dariku. Sudah, sudah aku ingin berhenti berpikir, tapi kapan kematian itu datang padaku? Malaikat-malaikat pencabut nyawa, ayo akhiri hidupku, aku sudah bosan dan aku sudah tak punya harapan. Tak terasa ternyata guru biologi sudah masuk dan akan segera memulai pelajarannya, aku masih dalam keadaan melamun. Hmm, aku tak suka pelajaran biologi karena aku harus banyak membaca dan mengingatnya, yang lebih aku benci adalah saat harus mengisi soal dengan nama latin. Tak mudah aku mengingatnya, berhubung banyak sekali spesies dari hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan. *** Istirahat kali ini Alvin tidak menggangguku, tumben sekali. Ia langsung pergi ke kantin, mungkin karena ia sudah bosan berinteraksi denganku, ah aku tak peduli. Tapi beberapa menit kemudian ia kembali dan membawa dua botol minuman, ia langsung menghampiriku dan menawarkan minuman yang ia bawa kepadaku. “Em, maafin aku tadi yah, aku tau sekarang pun kamu ga akan ngomong ke aku, tapi kumohon sebagai rasa bersalahku aku ingin menggantinya dengan minuman ini, kamu mau kan nerimanya?” Kali ini suaranya begitu memelas dan terasa dari hembusan nafasnya ia merasa sangat bersalah kepadaku. Aku menatap wajahnya, aku tak bereaksi apapun. Aku mengambil minuman yang ia berikan padaku, lalu aku memasukkannya ke dalam tasku. “Thanks.” Ucapku dengan tak menatap wajahnya. Aku tak peduli ia mau mempersepsikan aku ini seperti apa. “Ohiya Emily, aku manggil kamu Em aja yah.” Tanya Alvin padaku. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Orang ini kenapa sih? Tadi ia marah kepadaku sekarang ia merasa bersalah padaku, tak ada kekonsistensian dalam dirinya, aku tak suka orang plin-plan. Macam orang tak punya tujuan dan selalu mengandalkan orang lain. Waktu terus berputar dan pelajaran pun bergantian seiring berjalannya waktu, ah ternyata lima menit lagi bel pulang akan berbunyi. Pelajaran terakhir hari ini adalah matematika, aku sangat menyukai matematika, karena pelajaran yang memusingkan, sama seperti aku yang pusing. Dan akhirnya bel pulang pun berbunyi, aku langsung bergegas keluar kelas. Dan seperti biasa, aku langsung pergi ke makam adikku, tapi saat baru saja aku keluar dari gerbang sekolah, si Alvin sialan itu mendekatiku dengan membawa motor trailnya yang bising. “Em, mau kuantar pulang?” Tawarnya. Kembali aku hanya menatapnya tanpa reaksi apapun, lalu aku terus berjalan dan tak menghiraukannya lagi. dari kejauhan aku mendengar ia membunyikan klakson motornya beberapa kali, aku membalikan badanku melihat ke arahnya, ia masih melihatku dan aku lalu melanjutkan langkah kakiku, dari kejauhan pula aku mendengar Alvin berteriak. “Em suatu saat pasti aku bisa membuatmu duduk di motor ini bersamaku.” Suaranya lantang. Sekali lagi, aku benar-benar tak menghiraukannya dan terus berjalan. *** “Dek kabar kamu hari ini gimana? Kakak bener-bener kangen sama kamu dek, kakak ingin segera menyusulmu, menemanimu di kebadian.” Lirihku dengan linangan air mata. Setelah beberapa menit aku mencurahkan isi hatiku di makam adikku, aku lalu bergegas pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku menyesali hidupku, tidak hanya sepanjang perjalanan ini, tapi setiap hari, setiap detik, setiap waktu aku terus menyesali hidup ini. aku menyesal telah dilahirkan ke dunia, terutama aku menyesal karena aku besar dan tumbuh di keluarga yang bobrok. Tak terasa kini aku sudah sampai di rumah, saat kubuka pintu, aku tak melihat siapapun di rumah, ibuku pasti masih bekerja tapi… entahlah, aku tak mempedulikannya, bisa saja ia berpesta lagi dengan rekan-rekan bodohnya. Aku langsung menuju ke kamarku, mengganti pakaianku. Rasanya hari ini sungguh melelahkan, aku pun akhirnya tertidur. Aku memejamkan mataku dan mulai tak sadar dengan dunia nyata, tiba-tiba aku terbangun tapi… saat aku membuka mataku semuanya terlihat putih dan kosong, ya kosong. Dimana aku? Aku bangkit dari posisisku dan mulai mencari-cari, aku terus berjalan tapi aku tak menemukan apapun, semuanya putih. Tiba-tiba datang sesosok gadis cantik datang padaku dan keadaan di sekelilingku berubah menjadi indah, ya, taman yang paling indah yang belum pernah aku temui dimanapun, sosok gadis cantik itu membelai rambutku, sungguh halus kulitnya. “Siapa kamu?” Entah mengapa saat ini aku bisa berinteraksi dengan orang lain, aku tak mengerti dengan diriku sendiri. “Aku adalah apa yang kamu rindukan Emily.” Suaranya begitu lembut, membuatku merasa terhipnotis. “Kamu yang aku rindukan? Kamu Charina?” Aku begitu senang menanyakan hal ini, aku sangat berharap semoga gadis di depanku ini adalah benar-benar Charina. Dengan caranya bertingkah membuatku ingat kepada Charina. “Tidak, aku bukan Charina, tapi aku adalah apa yang kamu rindukan.” Gadis itu tetap menjawab dengan jawaban yang tadi aku dengan saat pertama kali bertanya kepadanya, ah sebenarnya siapa gadis ini? “Lalu siapa kamu sebenarnya? Dan siapa namamu?” Jawabku bertanya kepada gadis yang tidak aku tau namanya, tapi perlahan gadis itu mulai menjauh dariku dangan wajahnya yang selalu tersenyum memberikan atmosfir kedamaian. “Yakinkan dirimu.” Ucapnya tegas mengarah padaku, tiba-tiba aku tak sadarkan diri lagi, aku tak tau apa yang terjadi dengan diriku. *** Tenyata gadis cantik layaknya bidadari itu dan semua suasana yang aku lihat adalah mimpi, ya itu semua hanya mimpi. Aku masih memikirkan siapa gadis cantik itu, mengapa ia bisa tau namaku? Mengapa ia mengira dirinya adalah apa yang aku rindukan. Selama hidupku aku tak pernah merindukan siapapun terkecuali adikku, tapi ia berkata bahwa ia bukan Charon. Tuhan, mengapa Kau memberikan kebingungan dalam diriku saat aku tak mampu berpikir. Aku benar-benar lelah menjalani hidup ini. Aku tertidur dari jam lima sore hingga jam tujuh malam ini, dengan disertai mimpi yang sungguh tak aku mengerti. Aku mendengar suara mobil ibuku, tumben sekali jam tujuh ia sudah pulang kerja. Aku tak senang ibuku pulang lebih awal, karena aku tak ingin banyak menghabiskan waktu di rumah bersama orang yang aku benci, ya walau memang aku tak berinteraksi dengan ibuku, tapi aku benar-benar tak suka berada di rumah lama-lama bersamanya. Letak kamarku berada tepat di atas garasi, jadi aku bisa mendengar suara kendaraan yang diparkirkan di garasi. Setelah aku berdiam selama beberapa menit, aku lalu bangkit dan langsung memutar musik screamo seperti biasa di speaker milikku. Aku tak peduli ibuku atau pembantuku merasa terganggu dengan suara musik ini, yang penting aku bisa melepaskan kebingungan dalam diriku. Ohiya, aku bukan perokok dan aku bukan juga pemabuk, walaupun kelihatannya aku seperti orang depresi berat tapi aku tak mau menyentuh rokok apalagi alkohol. Tapi mungkin saja suatu waktu, saat aku sudah tak bisa lagi mengontrol diriku lambat laun aku pasti akan mencoba itu semua. Kehancuran sudah aku genggam, aku tinggal menunggu hilangnya diriku. *** Hari ini aku bolos sekolah, pikiranku sedang kusut akibat mimpi kemarin sore. Sedari pagi hingga sore ini aku diam dimakam adikku. Aku menangis, aku mengadu dan aku berbicara sesuka hatiku. Aku benar-benar merasa nyaman berada disini. Hari ini cuaca terlihat mendung, mungkin hujan akan segera datang. Kulihat jam ditanganku, kini sudah jam empat sore. “Hmm…” Suara yang tidak asing di telingaku, aku lalu memutar kepalaku dan melihat sosok yang berdehem itu. Dan ya, itu Alvin yang selalu mencampuri urusanku. “Em, apa yang kamu pikirkan tentang makam ini? hanya tanah, mengapa kau berbicara dengan tanah? Ia tidak bisa menemanimu berbicara. Kamu berharap orang yang berada di dalam itu bisa membantumu? Tidak akan pernah bisa Em. Apa kamu ga ngerasa kasian? Tiap hari kamu selalu membebani orang di dalam makam itu dengan semua ceritamu, belum tentu ia bisa tenang untuk memikirkan dirinya sendiri.” Ucap Alvin panjang dan membuatku semakin membencinya, aku sudah tak tahan lagi dan kali ini aku berdiri di hadapannya lalu aku menampar pipinya. Aku lalu berlalu dari hadapannya. Dari kejaudah Alvin memanggilku. “Emilyyy…” Alvin memanggilku dengan sekencang-kencangnya. Tuhan, mengapa tak seorang pun mengerti dengan kondisiku? Semuanya sama saja, aku lelah, aku cape, aku bosan Tuhan. Lebih baik Kau ambil nyawaku. Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan segala hal. Ternyata hujan pun turun benar seperti dugaanku. Aku sudah benar-benar tak bisa menahan air mataku untuk tidak keluar. Hingga akhirnya aku menangis. “Hujan teruslah kau turun, agar aku bisa menangis, agar tak ada yang melihat aku menangis. Temani aku dalam kesendirianku. Hujan teruslah kau basahi diriku, hingga aku bersih, hingga aku dingin, hingga aku tak bernafas lagi.” Harapku di sela-sela hujan yang begitu deras dengan suara guntur yang membuat suasana hujan begitu dashyat. Aku berharap guntur-guntur itu menyengatku dengan tegangannya yang begitu tinggi, hingga membuatku tak hidup lagi, aku benar-benar mengharapkan hal itu. Aku terus berjalan tapi tak juga guntur itu menghantam tubuhku, akhirnya aku sampai di depan gerbang rumahku. Aku langsung bergegas masuk ke rumah, dengan tubuh yang basah kuyup dan tentunya dengan hati yang begitu tersayat. “Darimana saja kamu?” Tanya ibuku yang ternyata sudah pulang kerja. “Darimana saja aku itu bukan urusan mama.” Jawabku tak melihat wajahnya, aku tak ingin melihatnya saat ini. “Anak kurang ajar.” Tiba-tiba saja ibuku menamparku dengan sekuat tenaga, memberi bekas merah di pipiku, sesaat aku merasakan sakit atas tamparan itu. Tapi aku merasa lebih sakit karena ibuku menamparku, apakah pantas aku menyebutnya ibu? Kukira tidak, ia bagaikan monster besar yang mengekang hidupku. “Introspeksi diri mama.” Balasku dengan mata melotot mengahadap ibuku. Setelah itu, aku langsung bergegas ke kamarku. Aku segera menganti pakaianku dan membilas diriku yang kedinginan karena hujan di luar tadi. Setelah aku selesai mengganti pakaianku, aku langsung duduk di depan jendela kamarku, melamunkan segala hal. Berharap datang keajaiban datang padaku. H E L L O – Evanescence Playground school bell rings again Rain clouds come to play again Has no one told you she’s not breathing Hello I’m your mind giving you someone to talk to hello If I smile and don’t believe Soon I know I’ll wake from this dream Don’t try to fix me I’m not broken Hello I’m the lie living for you so you can hide don’t cry Suddenly I know I’m not sleeping Hello I’m still here all that’s left of yesterday Lagu slow yang membuatku ingin menangis lagi, tak tau kenapa tiba-tiba saja ada lagu itu di song list yang jarang aku dengarkan. Baru kali ini aku memutarnya kembali. Lagu itu benar-benar bermakna bagiku. Dan ini adalah lagu favoritku, sangat tepat dan pas untuk mengenang adikku yang sudah tiada. *** Pagi ini aku terburu-buru datang ke sekolah, aku terlambat lagi. Sepertinya kondisiku sedang tidak baik saat ini, mungkin karena kemarin aku kehujanan dan tak langsung makan setelah sampai di rumah. Mungkin aku bisa cepat mati dengan cara seperti ini. Hari ini aku memakai tas dan sepatu yang lain, karena sepatu dan tasku yang kemarin kupakai benar-benar basah, kukira buku-buku yang ada di dalam tas itu pun basah. Ah sudahlah aku tak peduli. Sesampainya di kelas aku langsung duduk di kursiku. Banyak orang sudah berdatangan dan tentu masih pagi begini pasti sudah tersebar gosip baru atau apapunlah yang mereka bicarakan. Mengapa mereka selalu membicarakan orang lain? Sedangkan diri mereka pun belum benar. Bel masuk berbunyi tapi… aku tak melihat si Alvin sialan pagi ini. Apa dia telat? Atau mungkin dia tidak akan sekolah? Ah sekali lagi aku benar-benar tak peduli. Saat ini aku benar-benar marah kepadanya karena kemarin sore ia sungguh mengangguku di makam adikku. Jika saja ia berada di posisiku tentu ia pun akan melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan saat ini. Ia tidak tau betapa sangat berharganya adikku dihadapanku. Mengapa semua orang selalu menafsirkan anggapan mereka tanpa mengetahui penyebab dan alasan yang jelas, orang-orang benar-benar ceroboh. Aku terus mengikuti pelajaran dari pagi hingga siang. Semuanya terasa sangat membosankan. Perasaanku hari ini berbeda dari hari-hari biasanya. Hmm… apa karena aku telah menampar Alvin? Jadi aku merasa sangat bersalah, tapi aku juga merasakan sakit hati yang mendalam saat ibuku menamparku sepulang aku sekolah dengan keadaan tubuhku yang basah kuyup. Aku tak mengerti dengan semua ini. Sekolah hari ini sudah selesai, seperti biasa aku langsung bergegas menuju makam adikku untuk mencurahkan semua isi hatiku, sekitar lima belas menit aku berjalan dan akhirnya sampai juga di makam adikku. Lalu aku membereskan makam adikku, menaburinya bungan tujuh rupa. “Dek, kemarin kakak ditampar sama mama, kakak tidak merasa pipi kakak sakit tapi kakak merasakan sakit yang mendalam dalam hati kakak dek. Dek andai saja ada kamu saat ini di hadapan kakak, pasti kakak bakal segera meluk kamu dan pasti perasaan kakak bakalan tenang, ga seperti sekarang. Semuanya jahat, semuanya palsu. Kakak benar-benar takut sekarang dek. Tak ada yang menemani kakak seorang pun sekarang.” Ucapku panjang dengan linangan air mata sedih yang membasahi pipiku. Aku jauh dengan Tuhan, aku tak mengenal agama. Sejak kecil ibu dan mantan ayah jahanamku tak pernah mengenalkan aku dengan agama. Tapi aku percaya adanya Tuhan dan aku percaya bahwa Tuhan kuasa atas segala hal. Aku selalu mengadu kepada Tuhan, tapi aku tak dekat denganNya. Mengapa? Mengapa? Aku terombang-ambing di dunia ini, aku tersesat, aku ingin mati saja, kumohon kabulkan permintaanku Tuhan. *** Minggu pagi ini aku pergi ke taman, hari minggu begini biasanya taman ramai karena banyak orang berolahraga atau untuk sekedar menikmati pemandangan hijau yang masih ada di kota Jakarta yang padat seperti neraka ini. Aku duduk sendiri di kursi taman yang menghadap ke sebuah parit kecil yang airnya masih jernih. Memberikan sedikit hiburan bagi mataku. Aku melamun, entah mengapa aku benar-benar sering melamun dan selalu memikirkan penyesalan dan penyesalan. Setelah beberapa menit aku duduk di kursi taman itu aku langsung bergegas berjalan-jalan ke bagian taman yang lainnya. Pagi ini aku memakai jaket yang lumayan tebal berwana hitam, resleting yang aku bukakan membuat orang-orang bisa melihat aku memakai baju warna putih dibalik jaketku. Sepanjang aku berlajan di taman aku memasukkan tanganku ke dalam saku jaketku sedekar untuk menghindari rasa dingin yang tidak terlalu mencekam. Kurang lebih sekitar dua jam aku jalan-jalan di taman, setelah itu aku keluar dari taman dan langsung kembali ke rumah, kembali dengan rutinitas monoton dalam hidupku. Bertemu dengan ibuku, bertemu dengan suasana rumah yang membuatku merasa sangat tak nyaman. Sesampainya di rumah, aku tidak melihat ibuku. Ya, memang hari minggu pun ibuku masih bekerja, tapi tidak terlalu padat seperti hari-hari biasanya, ah lumayan juga aku tidak bertemu dengannya. Aku lalu duduk di sofa seraya melihat tanyangan di TV LED berukuran besar. Ini terlalu berlebihan menurutku, estetika tidak harus selalu ditonjolkan dengan kemewahan. Tapi orang-orang selalu berlomba untuk hal itu. Begitupun halnya dengan ibuku. Ia selalu membelanjakan hartanya untuk barang-barang mewah yang terkadang bukan untuk kepentingan yang berarti, tetapi untuk dipamerkan saja kepada teman-temannya. Mobil berjejer, tapi aku tau ibuku tidak terlalu menyukai mobil, itu sekedar hanya untuk pamer kepada teman-temannya saja. Mungkin jika aku bahas semuanya terlalu sia-sia aku menghabiskan waktuku. Aku kembali melanjutkan melihat TV, tontonan pun membosankan. Sinetron, gosip dan sebagainya. Akhirnya aku memutuskan untuk bergegas ke kamarku, tasku yang beberapa hari lalu basah karena hujan kini masih tergeletak di kamarku, keadaan tasku masih lembab karena aku tidak juga menjemurnya, aku membuka tas tersebut, aku keluarkan semua isi tasnya, saat aku sadari bahwa buku pink mililkku tak ada di sana, seketika aku panik dan kaget, mengapa buku itu bisa hilang dan tak berada di tasku? Buku itu sangat berharga bagiku, buku itu adalah sekumpulan cerita kelamku dan di halaman-halaman awal adalah bagian-bagian hidup bahagiaku, buku itu sudah dari kecil aku miliki, jadi sedari kecil aku selalu menuliskan segala hal yang aku alami di buku itu, tapi… kini buku itu hilang, aku tak tau dimana buku itu sekarang. Aku segera bertanya kepada pembantuku “Bi, lihat buku pink di tasku?” Tanyaku dengan nada tak beraturan karena panik, kali ini dalam kondisi panik, aku tak bisa mengontrol nafas dan diriku. “Bibi tidak lihat non, kan non yang bilang, bibi jangan bereskan barang apapun milik non.” Terang pembantuku dengan jelas. “Makasih bi.” Aku berlalu dari hadapannya dan segera kembali ke kamarku. Aku tak mengerti kenapa buku itu bisa hilang, itu buku paling berharga yang pernah aku milikki, yang paling penting di dalam buku itu adalah ada fotoku bersama Charina waktu masih kecil. Hanya itu yang aku punya, tak ada lagi foto Charina yang lainnya yang aku milikki, bahkan di rumah pun tak ada foto Charina yang terpajang. Apalagi yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar tak bisa lagi melihat Charina. *** Kembali dengan aktifitas sehari-hari, ya sekolah. Aku tak bergairah, beda dari hari-hari sebelumnya. Aku kehilangan buku berhargaku. Setiap pelajaran aku terus melamun, aku tak konsentrasi dengan apa yang aku pelajari hari ini, yang aku inginkan sekarang adalah buku pink itu. Aku ingin melihat foto Charina. Ohiya, si Alvin sialan hari ini tak masuk sekolah lagi, mengapa ia tak kunjung sekolah dari beberapa hari lalu? Ah sudahlah, lebih baik aku memikirkan bagiamana caranya agar buku pink itu kembali kepadaku. Setelah sekolah selesai hari ini, seperti biasa aku langsung bergegas pergi ke makam adikku. “Dek, kakak kehilangan buku pink kakak, yang dulu kamu inginkan itu. Buku itu ilang dek, kaka sedihhhhh banget, kakak juga kehilangan foto kamu satu-satunya. Dedek yang tenang ya disana, kakak selalu merindukanmu dek, kakak selalu berharap bisa menemanimu disana, dengan itu kakak tak butuh lagi buku pink itu bahkan kakak tak butuh lagi dengan apapun, kakak hanya butuh bersamamu dek.” Kali ini aku memeluk makam adikku, ini memang berlebihan tapi aku nyaman melakukannya. Air mataku membasahi tanah makam adikku. Ah aku tak peduli, saat ini aku hanya ingin mencurahkan semua isi hatiku hanya disini, di makam adikku. *** Saat aku membuka pintu, aku sudah disuguhi dengan pemandangan yang lagi-lagi membuatku semakin down. Ya, ibuku sedang bermesraan dengan seorang laki-laki di rumah. Aku muak melihatnya, siapa pria itu? Dan mengapa ibuku mau bermesraan dengannya? Tuhan, aku benar-benar membenci ibuku, aku tak ingin memiliki seorang ibu sepertinya. “Hey Emily, pergi kamu.” Ucap ibuku mengusirku. Aku berlari menuju kamarku dan segera mengganti pakaianku, setelah itu aku langsung pergi lagi ke luar rumah. Aku tak punya tujuan akan pergi kemana. Tapi terlintas di pikiranku apakah lebih baik aku bunuh diri saja, menjatuhkan tubuhku dari jembatan penyebrangan? Ah aku tidak mungkin melakukanya, pasti orang-orang akan mengerubungiku dan peduli dalam kepalsuan terhadapku, sekali lagi aku tak suka itu. Lalu… aku teringat dengan ucapanku dulu, suatu saat aku pasti akan mengenal dan lebih dekat dengan rokok dan alkohol. Dan ini saatnya aku kenal dengan mereka. Aku pergi ke sebuah klab, disana aku memesan alkohol yang rendah kandungan alkoholnya, aku pun mulai merokok. Pertama-tama aku tak kuat dengan asap rokok dan membuatku batuk, orang-orang di sekelilingku pun menertawakanku, mungkin karena aku tidak bisa merokok dan aku tak tau bagaimana caranya merokok. Tapi aku terus mencoba menghabiskan satu batang rokok, hingga akhirnya aku mulai terbiasa dengan hisapan-hisapan itu, ya memang merokok bisa menghilangkan sedikit depresi dalam kepalaku, ditambah lagi dengan alkohol ini yang mulai membuatku serasa melayang. Tak terasa aku sudah menghabiskan lima gelas besar yang berisi alkohol dan dua bungkus rokok. Dan tak terasa pula kini waktu sudah menujukkan pukul dua belas malam, aku keluar dari klab itu. Langkahku sempoyongan, kepalaku sangat pusing, tapi perasaanku serasa melayang. Aku masih sedikit tersadar, sepanjang perjalanan aku berceracau tak jelas, begitupun dengan langkah kakiku yang tidak beraturan. Aku terus menyusuri jalan menuju rumahku. Ini sebuah perjuangan besar bagiku, aku tak bisa menahan diriku lagi, pandanganku semakin tak jelas, tapi sepertinya aku sudah melihat rumahku. Dengan penuh perjuangan aku terus berjalan menuju rumahku dan akhirnya aku sampai di depan pintu rumahku, aku serega membuka pintunya dan langsung masuk ke rumah. Dalam keadaanku yang sedang mabuk aku mendengar suara dentuman musik yang keras, dalam ketidaksadaranku aku masih bisa melihat, dan itu adalah ibuku yang sedang berpesta lagi dengan teman-teman bodohnya. Aku langsung bergegas menuju kamarku, aku meraba-raba saku jaketku dan ternyata masih ada lima batang rokok, saat itu juga aku menghisapnya sekaligus, rokok-rokok itu terselip di jemariku dan bertemu dengan bibirku yang lembut, lalu aku menghisapnya dan terkadang aku menelan asap rokok itu. Sungguh membuatku tak peduli dengan keadaan sekitar. Akhirnya aku pun tak sadarkan diri, aku benar-benar lelah dan pusing karena efek alkohol dalam minuman tadi di klab. *** Sekitar pukul tujuh pagi aku baru saja terbangun dan masih terasa rasa pusing di kepalaku, aku memukul-mukul kepalaku dengan pegelangan tanganku sekedar untuk menyadarkanku. Aku melihat-lihat keadaan kamarku, aku merasa asing. Efek alkohol ini begitu kuat melekat di dalam tubuhku. Akhirnya aku tidak sekolah lagi hari ini, dan ibuku benar-benar sudah tidak peduli dengan kehidupanku. Begitupun denganku yang tak pernah mempedulikan kehidupannya. Setelah aku berpikir sejenak, aku lalu bergegas mandi untuk segera menyegarkan tubuhku, dan lumayan juga setelah mandi aku sedikit lebih segar. Aku lalu berpakaian sekenanya. Hari ini aku berencana akan ke makam adikku sore hari, pagi ini aku hanya ingin tidur pulas dan melupakan dunia. Lalu aku mulai tertidur lagi di atas kasur empuk milikku. Aku masuk ke dalam dunia yang tak kukenal dan lagi-lagi gadis cantik itu… aku melihatnya, ia selalu tersenyum. “Hey Emily, apakah kamu benar-benar tak merindukanku?” Ucapnya dengan suara khasnya yang lembut. “Sebenernya kamu siapa? Aku ga kenal kamu, dan untuk apa aku merindukanmu? Bahkan aku tak tau namamu.” Nadaku dengan sedikit menyentak. “Aku adalah apa yang selalu kamu rindukan kehadirannya Emily.” Ia mendekat padaku lalu memelukku, saat aku akan membalas pelukannya, tiba-tiba saja gadis itu menghilang begitu saja dan aku kembali dengan keadaan gelap. Aku pun akhirnya tersadar ternyata itu hanya mimpi. Tapi mengapa aku merasakan mimpi yang berkaitan dengan mimpiku yang sebelumnya dan lagi lagi aku bertemu dengan gadis yang selalu menjawab bahwa dirinya adalah apa yang aku rindukan. Teka-teki apalagi ini? aku sudah tak tahan. Siapa yang aku rindukan? Hanya Charina, adikku. Aku tak pernah merindukan orang lain selain adikku. Siapa gadis itu? Mengapa ia pun mengganggu hidupku??? Setelah aku menunggu, akhirnya sore hari pun tiba. Aku langsung bergegas pergi ke makam adikku. Dari kejauhan aku melihat punggung seorang lelaki dari belakang. Ia menatap makam adikku, dan tampaknya ia sudah membereskan makam adikku. Siapa laki-laki itu? Aku pun bergegas mendekati makam adikku. Setelah aku berada dekat dengan makam adikku, aku berdiri di depan laki-laki itu, setelah laki-laki itu mendengar langkah kakiku, ia mendongakkan wajahnya ke atas dan tatapannya bertemu denganku. Ayah? Maksudku ia mantan ayahku. Mengapa ia ada disini? Mengapa semua menjadi seperti ini? aku semakin tak mengerti. “Emily…” Mantan ayahku lalu berdiri dan dengan segera menyambar tubuhku dengan pelukannya, tak terasa air mataku mengalir tapi aku tak membalas pelukannya. Mengapa ia berbuat seperti ini? Aku benar-benar membencinya, aku berjanji tak akan membuka pintu maafku untukunya. “Emily maafin papa Emily…” Ucapnya lagi dengan berlinangan air mata yang membasahi bajuku. Lalu aku segera melepaskan pelukannya dengan mendorong tubuhnya jauh dariku. Seperti biasa aku tak berbicara dan hanya menatapnya. Aku langsung pergi dari makam, aku berlari sejauh mungkin, aku tak menghiraukan lagi ayahku. Apa yang ia inginkan? Apa yang orang-orang inginkan? Mereka selalu saja datang dan ganggu hidupku. *** Hari ini aku tak sekolah lagi, aku benar-benar malas dan tak ada semangat untuk bersekolah, aku sudah tak peduli lagi dengan masa depanku. Sore ini aku kembali lagi ke makam adikku, kali ini ada lagi seorang laki-laki yang sudah membereskan makam adikku, aku lihat lebih dekat lagi dan ternyata itu si Alvin sialan yang sungguh kubenci. Ia tidak kaget saat melihatku dan seperti biasa ia memberikan senyuman yang khas dari pipinya. “Hay Em, kamu kemana aja udah dua hari ga sekolah?” si Alvin sialan mulai membuka pembicaraan. Aku tak menjawabnya dan terus menatapnya. “Em.” Tiba-tiba ia menggenggam tanganku, entah kenapa… kali ini aku tak bias melakukan apapun untuk melawan Alvin sialan ini, kenapa aku bisa membiarkan ia memegang tanganku dengan seenaknya. “Em, aku… aku bener-bener minta maaf, buat kejadian beberapa hari lalu.” Ucap Alvin sialan dengan nada memelas dan tak berdaya. “Aku tau kamu pasti marah banget sama aku, aku bener-bener minta maaf Em.” Lalu ia mencium tanganku yang sedari tadi dipegangnya. Aku tak tau harus berbuat apa sekarang. Mengapa aku bisa kalah dengan situasi seperti ini, aku benar-benar tak bisa melawan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari hadapan Alvin, hal yang terjadi seperti kemarin. Aku berlari dari makam karena ada orang-orang yang selalu menganggu hidupku. Aku selalu dibuatnya bingung. Waktu begitu cepat berlalu dan tak terasa kini hari sudah berganti, hari ini aku datang ke sekolah lebih awal dan dengan sedikit semangat yang tak bisa mengalahkan rasa pahit dalam hidupku. Saat aku memasuki kelas, aku melihat si Alvin sialan sudah duduk di kursinya dan spontan melihat ke arah pintu saat ia mendengar pintu kelas terbuka, dengan segera ia melemparkan senyuman kepadaku. Ia lalu berdiri dari posisinya dan segera mendekatiku. “Hey Em, selamat ulang tahunnnnnn.” Ia tiba-tiba saja memeluk tubuhku. Hah? Hari ini aku ulang tahun? Benarkah? Bahkan aku sendiri pun lupa bahwa hari ini ternyata hari ulang tahunku. Hmm, tapi darimana Alvin tau ini hari ulang tahunku? Ini sungguh aneh, aku tak mengerti dengan jalan pikirannya, mengapa ia tau namaku? Mengapa ia tau hari ulang tahunku. Dan yang lebih aneh bagiku, mengapa aku selalu tak bisa melawan kepadanya saat ia mencoba mendekatiku. Aku.. aku.. ah sudahlah aku benar-benar heran. Aku segera duduk di kursiku begitupun dengan Alvin. Ia mendekatkan kursinya kepadaku. “Em sweet seventeen. Bukankah itu indah? Aku pasti akan memberikan hadiah buat kamu Em.” Ucap Alvin membuatku sedikit luluh. Bel masuk berbunyi, Alvin segera meletakkan kursinya seperti semula. Pelajaran pertama adalah fisika dan guru fisika pun segera masuk, ya bu Diana kesukaanku, tapi lagi-lagi bu Diana tidak bisa mengajar hari ini, karena ada keperluan. Padahal saat ini aku ingin belajar fisika. Akhirnya bu Diana memberikan tugas. Dengan semangat aku langsung mengerjakannya dan menurutku soal ini masih lumayan mudah. Kulihat dari ujung mataku, kini Alvin sepertinya sudah tak pusing lagi dengan soal-soal fisika. “Makasih Em udah ngingetin aku dan ngasih pelajaran buat aku.” Tukas Alvin mengagetkanku. Aku tak memberi respon apapun, aku hanya menatapnya. Untuk apa ia berterima kasih padaku? Aku tak memberikannya apapun, bahkan aku tak pernah memberinya pelajaran. Bel istirahat berbunyi, semua siswa bersorak setelah terbebas dari soal fisika. “Em, ayo istirahat bareng aku. Buat sekali ini aja.” Ajak Alvin dengan paksaan. Lagi-lagi aku tak bisa menolak ajakannya, auranya begitu kuat membuatku tak bisa melawannya. Sepanjang perjalanan ia menggenggam pergelangan tanganku. Dan ia terus saja mengajakku berbicara walau aku tak memberikan reaksi apapun kepadanya. Sesampainya di kantin, Alvin membeli dua buah es krim, ia memberikan satu es krim kepadaku. Lalu kami memakan es krim bersama-sama, aku belum pernah mengalami hal ini. Mengapa Alvin begitu memaksaku untuk berinteraksi dengannya. “Thanks.” Lirihku seraya kami masih memakan es krim. Alvin hanya menatapku dan tiba-tiba saja menertawakanku. “Haha, gapapa, anggap saja ini hadiah ulang tahun buat kamu Em.” Rayuannya membuatku benar-benar luluh kepadanya. Setelah bel masuk berbunyi, pelajaran demi pelajaran terus berganti. Beberapa menit sebelum bel pulang berbunyi aku berbicara kepada Alvin dan baru kali ini aku berbicara panjang lebar dengannya. “Hmm, Alvin, thanks banget kamu udah beresin makam kemarin.” Ucapku dengan nada sedikit malu dan rasa campur aduk tak menentu. “Ya, itu sebagai balasku, karena waktu itu aku udah bikin kamu nangis, maafin aku ya Em.” Tiba-tiba ia memelukku lagi dan lagi-lagi membuatku tak berdaya lalu perlahan ia mulai melepaskan pelukannya. “Kalo boleh aku tau, sebenernya itu makam siapa Em?” Sepertinya kali ini Alvin mulai menyelidikiku. Tapi aku sungguh tak mengerti, mengapa akhir-akhir ini aku tak bisa menolaknya? Padahal aku sudah berjanji tak akan pernah ingin untuk dekat dengannya. “Itu makam adikku, aku sayang sama dia, aku sedih waktu dia meninggal.” Ucapku padanya, dengan kondisi mataku yang mulai berkaca-kaca. Bel pulang pun berbunyi dan semua murid bergerombolan keluar kelas, masih ada aku dan Alvin di dalam kelas. “Kamu yang sabar ya Em, aku yakin masih ada banyak orang yang sayang sama kamu.” Lagi-lagi Alvin kembali memelukku dan kali ini diberengi dengan elusannya di kepalaku. “Yasudah Em, ayo kita pulang. Tidak baik berduaan seperti ini.” Alvin mengajakku keluar kelas, kali ini ia menggenggam tanganku. Apakah aku jatuh cinta? Mengapa aku begitu mudah jatuh cinta kepada Alvin? Tapi aku akan terus menolak pemikiran-pemikiran ini, aku tak boleh dekat dengannya. Aku tak boleh terjebak oleh tingkahnya yang seolah peduli padaku. “Em, kamu mau kan aku anterin pulang? Pleaseee.” Wajahnya begitu lucu membuatku ingin tertawa, Alvin benar-benar memohon padaku. “Tapi untuk kali ini aja ya.” Ucapku memberikan isyarat. Akhirnya sudah sekeras apapun aku menolak, aku tetap tak bisa menolaknya. Aku diantar pulang oleh Alvin dengan motor trailnya yang berisik. “Em pengangan yang erat ya, kita akan merasakan adrenalin yang mendebarkan.” Setelah beberapa meter keluar dari area sekolah, Alvin mulai mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat cepat, hingga membuat aku harus berpegangan kepadanya. Entah mengapa, saat ini aku bisa tertawa dan Alvin adalah orang yang berhasil membuatku tertawa. Tapi rasa suram dalam diriku tetap lebih besar dibandingkan tawa bahagia saat ini. Alvin masih mengendarai motornya dengan kecepatan ekstra, aku benar-benar takut. Dan aku semakin mengenggamnya lebih erat lagi. *** Alvin menghentikan motornya di depan makam. “Aku bakalan nemenin kamu hari ini Em.” Ungkap Alvin seraya merangkul pundakku dan lalu berjalan menuju makam Charina, Tuhan apa yang terjadi denganku? Mengapa aku benar-benar tak bisa menolak apa saja yang dilakukan Alvin padaku akhir-akhir ini. Beberapa menit kemudian, kami sampai di makam adikku, aku membereskan makamnya begitupun dengan Alvin yang ikut membantuku. “Ohiya Em, sudah berapa lama adikmu meninggal?” Tanya Alvin secara tiba-tiba. Rasanya kali ini aku ingin mencurahkan semuanya kepada Alvin, aku terlalu lemah untuk menanggung semua kepahitan dalam hidupku, mungkin jika aku berbagi kepada Alvin bisa membuatku sedikit lebih lega. Tapi… mengapa aku bisa dengan mudah percaya kepada Alvin? Padahal aku tak pernah bisa bersikap seperti ini semenjak beberapa tahun yang lalu, ini benar-benar aneh. “Ia meninggal tujuh tahun yang lalu, selama tujuh tahun itupun aku tak memiliki gairah hidup.” Tuh kan, aku mulai tak bisa mengontrol diriku, kenapa aku berterus terang kepada Alvin? Ayolah hormon berkerjalah dengan baik. Aku tak boleh melakukan ini semua dihadapan Alvin. “Em, maafkan aku. Bukan aku bermaksud mengusik hidup kamu, tapi aku… aku ingin lebih dekat sama kamu.” Kenapa dengan Alvin? Mengapa ia berkata seperti itu padaku? Aku sungguh heran dengan semua kejadian ini. “Maksud kamu apa Vin?” Tanyaku berlagak tak mengerti apa yang ia bicarakan, tapi aku memang tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan beberapa detik lalu. “Aku ingin lebih dekat denganmu, aku ingin menunjukkan padamu. Bahwa tak semua orang itu bodoh, gila dan tak peduli padamu.” Ucapan Alvin membuatku benar-benar tersentak. Mengapa ia tau tentang anggapanku kepada orang-orang? Sebenarnya siapa Alvin ini? “Sebenernya kamu siapa Vin? Aku ga suka kamu ngusik hidup aku.” Kali ini nada suaraku meninggi seraya membangkitkan badanku, aku hendak berlalu dari hadapan Alvin tapi aku terlambat, ia lebih dulu menggenggam tanganku dan langsung menenangkanku dengan pelukannya yang terasa begitu hangat. “Percayalah Em, sampai kapanpun kamu menghindar semuanya tak akan berakhir. Mendekati dan memperbaikinya adalah hal yang terbaik.” Lanjutnya. Tapi… mengapa ia seolah-olah tau apa yang benar-benar aku alami saat ini? Aku semakin tak mengerti dengan semuanya. “Kenapa Vin? Kenapa kamu tau tentang aku? Kenapa kamu peduli padaku, tapi kamu nyakitin perasaanku? Kamu salah Vin, kamu tak boleh dekat denganku.” Gerutuku seraya mendorong Alvin dari hadapanku. Aku lihat Alvin sudah terjatuh, karena tadi aku mendorongnya. Aku lalu berlari menjauh dari hadapan Alvin. *** Aduh, kepalaku terasa sangat berat dan sakit, bahkan pandangan mataku sudah tak jelas, semuanya berputar. Ah, ini efek mabuk, ya kali ini aku mabuk lagi dan aku semakin dekat bersahabat dengan alkohol dan rokok. Hmm, kemarin aku ulang tahun? Aku berumur tujuh belas tahun? Dan aku harus memperbaiki semua masalah yang aku alami? Ya Tuhan, jalan takdir yang seperti apakah yang Kau berikan padaku. Aku terlalu bodoh untuk mengikuti sandiwara besar ini Tuhan. Akhir bahagia itu milikMu dan kepedihan aku yang harus hadapi, Kau ciptakan skenario yang begitu rumit bagiku, tapi akhirnya aku pun pasti akan kembali juga padamu, tepatnya surgaMu atau nerakaMu. Aku bangkit dari posisiku yang tergeletak, tunggu… aku dimana sekarang? Aku melihat sekelilingku, aku berusaha mengingat-ngingat dimana aku sekarang, tapi aku benar-benar tak mengenal tempat ini. Aku merasakan hembusan angin menyentuh tubuhku, aku kaget saat kulihat tubuhku tak terbungkus apapun dan tempat ini… tempat ini begitu gelap, aku berada di atas kasur. Apalagi yang terjadi denganku Tuhan? Aku diperkosa? Seketika aku berdiri dan segera memukul tembok ruangan ini dengan sekuat tenagaku, aku membenturkan kepalaku dengan lumayan keras di tembok dan masih dibarengi dengan pukulan-pukulan tanganku di tembok, aku menjerit sekuat tenagaku, air mataku menemani jeritanku. Rasanya aku sudah tak bisa merasakan hatiku lagi, entah bahagia, sedih atau apapun yang dirasa. Aku sudah terlalu sering merasakan sakit hingga kini perasaanku benar-benar mati rasa. Aku langsung memakai pakaianku yang berserakan dimana-mana, keadaan organ intimku sudah tak tertahankan lagi rasa sakitnya, tapi aku terus berusaha untuk bisa keluar dari tempat jahanam ini, kubukakan pintu kamar ini dan ini bukan di bar, klab atau diskotik. Aku berada di tempat yang benar-benar tak aku tau. Tadi sore aku pergi ke klab, lalu aku mabuk berat dan hingga akhirnya aku tak sadarkan diri, benar-benar tak ingat apa yang terjadi dengan diriku, kini waktu sudah lewat tengah malam keadaanku sudah tak beraturan, badanku bau alkohol dan aroma rokok dan bau-bau lainnya yang tak banyak orang ketahui. Aku berjalan terpogoh-pogoh menahan rasa sakit di organ intimku, aku pun menahan rasa sakit di kepalaku yang masih terasa cenut-cenut. Aku terus menelusuri jalan, dan aku benar-benar tak tau tempat ini, orang biadab mana lagi yang telah membuatku seperti ini? Ia mengambil hal berhargaku tanpa aku ketahui. Kali ini aku sudah benar-benar tak memiliki gairah hidup dan enggan untuk mengenal siapapun, termasuk Alvin. Sesaat setelah aku sampai di jalan besar, aku menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Aku menyebutkan alamat rumahku, segera saja taksi bergegas melajukan stir menuju rumahku. Beberapa jam kemudian aku sampai dirumahku, aku tak memegang uang sepeser pun, aku meminta ijin kepada sopir taksi untuk mengambil uangku dulu di dalam rumahku, aku berlari menuju kamarku, kuambil uang milikku dan aku kembali ke bawah untuk membayar tarif taksi. *** “Benarkah aku hamil?” Terus terngiang pertanyaan itu di kepalaku, aku sudah tak bisa mengontrol diriku, entah ini depresi, stress atau mungkin gejala gila. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan pikiranku lagi. Aku sering melamun, bahkan berbicara sendiri, aku pun semakin menjadi perokok aktif, setiap hari aku pulang malam dan sudah seminggu ini aku tidak sekolah. Aku tak membicarakan semua yang terjadi padaku kepada siapapun, pokoknya setelah kejadian di malam itu, aku sudah benar-benar tak mempedulikan diriku lagi, aku tak peduli lagi dengan adikku, ku biarkan saja makam itu dan tak pernah ku rawat dan ku tengok lagi. Dan terkadang aku suka menangis tiba-tiba tanpa sebab. “Aku gila, ya…” Aku pun selalu berkata seperti itu. Hari ini aku bangun begitu siang, sekitar jam setengah sebelas paagi. Aku langsung saja bergegas mandi dan berdandan secukupnya. Setelah itu, aku langsung pergi ke taman yang biasa aku kunjungi, dan seperti biasa juga… aku duduk di bangku bawah pohon yang rindang menghadap sebuah parit kecil yang memberikan relaksasi mata. “Jika saja aku tidak dilahirkan mungkin aku akan selalu menjadi zat yang selalu disayangi Tuhan. Jika saja aku diberi pilihan, aku ingin dilahirkan kembali, tidak di keluargaku. Aku ingin hidup bahagia, aku benar-benar sendiri, aku takut.” Air mataku mulai mengalir begitu deras. *** Aku sudah duduk di bangkuku, masih jam setengah enam pagi. Aku memang gila, hingga masih pagi pun aku sudah berada di sekolah. Melamun, menangis, menyesal, berkata kasar, semua hal buruk keluar dari ucapanku. Aku sudah benar-benar tak tahan lagi dengan semuanya.
Sarah Budi Safira
"THIS TOO, SHALL PASS || 💪 لا تحزن إن الله معنا"

Cerita Lainnya

Tak perlu banyak alasan untuk memulai.

Punya banyak alasan tak membuatmu maju ...

Sebuah Senja dan Sepotong Kue

Pada suatu senja yang lalu, aku menunggumu, rindu. ...

IBU adalah Doa

Jangan sesekali kamu menyakiti, mengecewakan ibu, tapi sayangilah dia karena setiap doany ...

Masuklah! Maka Kamu Akan Mengerti

Apakah kalian setuju bila aku mengatakan masih banyak daerah di negeri ini yang tidak dap ...

Umur 28 belum nikah???

kalau jodoh tak lari kemanaaaaaa... ...

penyesalan

jangan penah menyia-nyiakan waktu yang tersedia untuk keluargamu selagi kamu masih diberi ...

Dia Yang Lebih Dulu

Jomblo Sampai Halal ...

Tentang Kami

Contacts

Alamat : Jl. Wilis kramat no. 64 Nganjuk Jawa Timur
Email   : ordermanten@gmail.com
Phone  : + 6 2 8 1 2 8 4 0 7 3 0 0 6


Follow Us
  testing      
Maps